FEB UI Dorong Aksi Nyata Net Zero from Home, Redam Urban Heat Island Lewat Transportasi dan Energi

FEB UI Dorong Aksi Nyata Net Zero from Home, Redam Urban Heat Island Lewat Transportasi dan Energi

 

Depok, 10 September 2025 — Fenomena Urban Heat Island (UHI) semakin terasa di kota-kota besar Indonesia. Suhu udara di pusat kota jauh lebih panas dibandingkan dengan kawasan pinggiran akibat dominasi beton, aspal, minimnya ruang hijau, serta pola konsumsi energi dan transportasi yang boros. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan hidup, tetapi juga memperburuk kualitas udara serta mendorong tingginya emisi karbon.

Menyadari urgensi tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melalui program pengabdian masyarakat bertajuk ‘Net Zero from Home‘ hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang peran penting gaya hidup sehari-hari dalam menekan dampak UHI sekaligus mendukung pencapaian Net Zero Emission. Program ini dipimpin oleh Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah bersama tim, yakni Putu Angga Widyastaman, M.S.E., dan Ikrar Genidal Riadil, S.Pd., B.SEd., M.A., serta menghadirkan narasumber ahli Wisnu Budi Waluyo, S.I.P., M.Sc., yang dikenal memiliki kepakaran di bidang Environment Health serta Development and Sustainability.

Dalam sesi edukasi, tim menggarisbawahi bahwa kontribusi masyarakat tidak harus menunggu kebijakan besar pemerintah. “Kita bisa memulainya dari keputusan sehari-hari,” jelas Dr. Irfani.

Dari sisi transportasi, langkah kecil seperti menggunakan KRL, MRT, Transjakarta, atau bus kota, berjalan kaki untuk jarak dekat, memanfaatkan carpooling, hingga merencanakan perjalanan dengan lebih efisien diyakini mampu menekan emisi, mengurangi polusi udara, sekaligus meredam efek UHI.

Ikrar menambahkan, “Pilihan sederhana ini bila dilakukan bersama-sama bisa memberi dampak sistemik pada penurunan emisi dan perbaikan kualitas udara.”

Upaya masyarakat akan lebih efektif dan berkelanjutan apabila pemerintah turut memperkuat infrastruktur publik, khususnya di bidang transportasi umum dan konektivitas. Sementara dari sisi energi rumah tangga, konsumsi listrik berlebih terbukti memberi kontribusi besar terhadap peningkatan suhu kota. Peralatan seperti AC, kulkas, dan televisi menghasilkan waste heat yang memperparah panas udara, sementara sebagian besar listrik di Indonesia masih berbasis batu bara.

Wisnu menjelaskan, “Sekitar 40% konsumsi energi tersedot untuk bangunan dan sistem pendingin. Jadi semakin boros kita memakai listrik, semakin besar pula emisi karbon dan panas buangan ke lingkungan.”

Oleh karena itu, gaya hidup hemat energi menjadi kunci. Masyarakat dapat melakukan hal sederhana seperti mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan, menggunakan lampu LED, memilih peralatan berlabel hemat energi, mengatur suhu AC di 25°C, memaksimalkan ventilasi alami, serta menanam tanaman di dalam rumah.

Selain manfaat lingkungan, perubahan gaya hidup ini juga membawa keuntungan ekonomi. Dengan menurunnya konsumsi energi, beban biaya rumah tangga ikut berkurang, sementara pemerintah dapat mengurangi subsidi energi dan mengalihkannya untuk pembangunan ruang terbuka hijau. “Mekanisme pasar pun akan bergerak: saat permintaan meningkat terhadap produk hemat energi, produsen akan termotivasi memproduksi lebih banyak perangkat ramah lingkungan,” ungkap Wisnu.

Program ini menutup rangkaian edukasi dengan pesan sederhana namun kuat: solusi besar selalu dimulai dari keputusan kecil. Melalui aksi nyata dari rumah, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan kota yang lebih sejuk, udara yang lebih bersih, serta masa depan yang lebih berkelanjutan. “Net Zero from Home bukan sekadar slogan, tapi aksi nyata yang bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Semakin kita sadar, semakin besar dampak positif yang bisa kita ciptakan bersama,” tutup Ikrar.