Dr. Aria Farah Mita: Peran Kinerja Keberlanjutan terhadap Ketahanan Keuangan Selama Krisis

Dr. Aria Farah Mita: Peran Kinerja Keberlanjutan terhadap Ketahanan Keuangan Selama Krisis

 

Rifdah – Komunikasi FEB UI

Depok, 2 Desember 2025 – Krisis global akibat pandemi COVID-19 mendorong banyak kajian untuk meninjau kembali faktor-faktor yang memengaruhi ketahanan keuangan perusahaan. Salah satu aspek yang kerap diasumsikan mampu memperkuat daya tahan perusahaan adalah kinerja keberlanjutan atau sustainability performance

Namun, penelitian dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) justru menemukan dinamika yang berbeda ketika keberlanjutan dihadapkan pada situasi krisis. Penelitian ini dilakukan oleh Dosen FEB UI Dr. Aria Farah Mita dengan judul “The Role of Sustainability Performance on Financial Resilience During Crisis”. Studi ini berfokus pada perusahaan-perusahaan di lima negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, dengan situasi pandemi COVID-19 sebagai konteks krisis global.

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi hubungan antara kinerja keberlanjutan perusahaan yang diproksikan melalui skor Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan ketahanan keuangan perusahaan dalam kondisi krisis. Ketahanan keuangan diukur menggunakan sejumlah indikator, baik yang berbasis harga saham maupun rasio keuangan yang bersumber dari laporan keuangan perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja ESG memiliki hubungan negatif dengan ketahanan keuangan perusahaan selama masa krisis. Temuan ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan kinerja ESG yang lebih tinggi tidak selalu memiliki ketahanan finansial yang lebih baik ketika menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan. 

Lebih lanjut, penelitian ini menyoroti bahwa aktivitas keberlanjutan cenderung menyerap sumber daya keuangan perusahaan, sehingga dinilai kurang memberikan nilai tambah pada masa krisis. Dalam kondisi darurat, perusahaan lebih memprioritaskan upaya mempertahankan kelangsungan usaha dibandingkan dengan investasi pada agenda keberlanjutan. Dengan demikian, aspek survival lebih dominan dibandingkan keberlanjutan jangka panjang.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi perusahaan dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi keberlanjutan. Perusahaan perlu mempertimbangkan kembali alokasi sumber daya untuk aktivitas ESG agar tetap sejalan dengan kebutuhan ketahanan keuangan, khususnya saat menghadapi krisis. Fleksibilitas strategi merupakan kunci agar keberlanjutan tidak justru melemahkan posisi finansial perusahaan.

Simak penelitiannya melalui laman Scopus