Mahasiswa PPIA FEB UI Raih Prestasi di ESGI Dataset Business Plan Competition (ED-BPC) Melalui Inovasi Lex Align
Nabila – Komunikasi FEB UI
Depok, 14 Januari 2026 – Mahasiswa Program Pascasarjaa S-2 P Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PPIA FEB UI) berhasil menorehkan prestasi sebagai 2nd Runner Up dalam ajang ESGI Dataset Business Plan Competition (ED-BPC) 2025. Prestasi tersebut diraih oleh Tim Pengendali Tanah, yang beranggotakan Rahmat Hakim, Vincen Paul Yosia Kaligis, dan Mawar Chatarina Apriani Silalahi, pada kategori Regulatory Integration for Sustainability.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh Center for ESG Studies Universitas Airlangga dan diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ajang tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan bisnis berbasis data dalam mendukung implementasi prinsip Environmental, Social, dan Governance (ESG).
Business plan yang dipresentasikan oleh tim Pengendali Tanah adalah LexAlign, dirancang sebagai platform Regulatory Technology yang memanfaatkan Big Data dan Artificial Intelligence (AI) untuk mengintegrasikan, memetakan, dan menyelaraskan regulasi nasional dengan standar global.
LexAlign disusun berdasarkan pengamatan akademik dan praktis terhadap fragmentasi regulasi keberlanjutan di Indonesia. Saat ini, emiten dan lembaga jasa keuangan dihadapkan pada berbagai regulasi keberlanjutan yang diterbitkan oleh berbagai lembaga. Ketidaksinkronan tersebut kerap terlihat pada perbedaan terminologi, indikator, hingga format pelaporan, sehingga meningkatkan kompleksitas kepatuhan bagi pelaku usaha.
Dalam wawancaranya, Rahmat selaku ketua tim mengatakan, “Dari situ, kami melihat peluang untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang tidak hanya membantu perusahaan patuh, tetapi juga meningkatkan kualitas tata kelola dan mengurangi risiko greenwashing.”
Sementara itu, menerjemahkan isu regulasi dan ESG yang kompleks sebagai business plan yang aplikatif sekaligus memiliki nilai jual bukanlah hal yang mudah. Rahmat menambahkan, “Kami memulai dari permasalahan nyata di lapangan, seperti tumpang tindih regulasi keberlanjutan dan tingginya biaya kepatuhan, serta menunjukkan bagaimana LexAlign aplikasi yang kami rancang dan kembangkan, mampu menjawab tantangan tersebut secara efektif dan terukur.”
Meskipun tim Pengendali Tanah bukan berlatar belakang sebagai pendidikan teknologi informasi, mereka dapat mengatasinya dengan belajar dan berkolaborasi bersama praktisi serta mahasiswa di bidang informasi teknologi.
Lebih lanjut, Rahmat menyampaikan, “FEB UI juga memberikan dukungan yang sangat signifikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan akademik FEB UI, khususnya PPIA, mendorong kami untuk berpikir kritis, berbasis data, dan relevan dengan isu kebijakan publik, yang sangat membantu dalam penyusunan konsep LexAlign.”
Menurutnya, budaya diskusi yang kuat, akses luas terhadap literatur, serta keberagaman perspektif dosen di PPIA, yang didukung oleh iklim kompetitif namun sehat di FEB UI, membentuk tim pengembang LexAlign untuk menguji setiap gagasan secara menyeluruh. Pengujian dilakukan tidak hanya dari aspek teknis, tetapi juga mencakup kelayakan bisnis serta dampak yang dihasilkan.
Dukungan FEB UI atas pencapaian tersebut juga diwujudkan melalui pemberian apresiasi dan fasilitasi publikasi ilmiah. Harapannya, upaya ini dapat memberikan dorongan strategis bagi tim untuk melanjutkan pengembangan LexAlign ke tahap selanjutnya untuk memperkuat kontribusi dalam pengembangan inovasi berbasis riset sebagai solusi berdampak nyata bagi dunia akademik, industri, dan masyarakat luas.

