GNAM Week 2026 Day 3: Diskusi Keuangan Hijau dan Harmoni Angklung

GNAM Week 2026 Day 3: Diskusi Keuangan Hijau dan Harmoni Angklung

 

Nabila – Komunikasi FEB UI

Jakarta, 11 Maret 2026 – Global Network for Advanced Management (GNAM) Week 2026 berlanjut pada hari ketiga dengan agenda yang menyoroti keberlanjutan sebagai pendorong utama ketahanan dan daya saing keuangan di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Magister Manajemen, pada Rabu (11/3).

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Yulianti Abbas, Ph.D. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran dunia usaha dalam menghadapi krisis iklim global serta mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di institusi dan negara masing-masing.

Sesi pertama dimulai dengan seminar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty selaku Guru Besar FEB UI  sebagai pembicara dengan moderator Jonathan Marpaung, Ph.D., selaku Dosen FEB UI. Dalam paparannya, Telisa menjelaskan pengalaman Indonesia dalam menyusun peta jalan ekonomi hijau dan keuangan hijau. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga risiko bisnis yang memerlukan adaptasi segera. Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 29 persen dari skenario business-as-usual dan hingga 41 persen dengan dukungan internasional.

“Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan dalam penerapan ESG seperti terbatasnya instrumen keuangan hijau, tingginya pembiayaan batu bara, dan potensi greenwashing. Oleh karena itu, pengembangan Inclusive Green Finance (IGF), blended finance, sekuritisasi hijau, dan jaminan risiko sangat diperlukan untuk mendorong mobilisasi modal,” ujar Telisa.

Sesi berikutnya menghadirkan Yosephine Ajeng Sekar Putih, MBA selaku Executive Vice President ESG Group di Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan tema ‘Innovative Financial Products and Indonesian Green Economy.’ Dalam presentasi interaktifnya, Yosephine mengajak peserta mendiskusikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan. Ia menilai konflik geopolitik dan bencana iklim memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan risiko keuangan global, sehingga memperkuat urgensi penguatan ketahanan melalui keuangan berkelanjutan.

Ia juga mencatat bahwa investasi bertanggung jawab meningkat dari 3 persen aset global yang dikelola pada 2018 menjadi 27 persen pada 2024. Tren ini menunjukkan bahwa keberlanjutan kini menjadi pendorong utama dalam sistem keuangan global.

Untuk mendukung transisi tersebut, BRI mengembangkan berbagai inovasi keuangan, antara lain obligasi hijau, pinjaman terkait keberlanjutan, pembiayaan transisi, blended finance, serta pasar karbon guna menyelaraskan aliran modal dengan tujuan keberlanjutan.

“Keuangan hijau digital menjadi penggerak penting. Platform yang memanfaatkan data satelit, alat pengukuran karbon, dan penilaian risiko iklim membantu bank menyediakan pembiayaan yang lebih cepat dan transparan bagi proyek hijau,” jelas Yosephine.

Rangkaian kegiatan hari ketiga ditutup dengan pertunjukan angklung oleh Angklung Interaktif Jakarta. Pada sesi ini, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada sejarah dan filosofi alat musik tradisional asal Jawa Barat tersebut, tetapi juga mendapatkan panduan singkat mengenai teknik dasar memainkan angklung. Dalam suasana santai dan interaktif, peserta diajak memainkan berbagai lagu populer secara bersama-sama, sehingga menciptakan pengalaman budaya yang meriah sekaligus mempererat kebersamaan di antara peserta GNAM Week.