Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Indonesia, Aria Farah Mita Usulkan Kerangka Pendekatan untuk Merespon Tuntutan Financial Statement Connectivity dengan Sustainability Disclosures
Depok, 4 April 2026 – Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dr. Aria Farah Mita, M.S.M., CA., CPA. (Dosen Departemen Akuntansi FEB UI) sebagai Guru Besar Tetap Universitas Indonesia, pada Sabtu (4/4). Prosesi ini dilaksanakan di Balai Sidang UI, Depok dan disiarkan secara virtual melalui kanal YouTube Universitas Indonesia dan UI Teve.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Surat Keputusan resmi menetapkan Prof. Aria Farah Mita sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Akuntansi dalam ranting ilmu/kepakaran Akuntansi Pelaporan Keuangan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, terhitung sejak 01 Oktober 2025.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Aria Farah membahas “Kerangka Pendekatan dalam Merespon Tuntutan Financial Statement Connectivity dengan Sustainability Disclosures“.
Ia menekankan bahwa meskipun laporan keuangan tetap relevan sebagai sumber informasi utama bagi keputusan ekonomi investor, kini muncul tuntutan agar laporan keuangan disajikan sebagai kesatuan yang terhubung dengan pengungkapan keberlanjutan (sustainability disclosures).
Perkembangan pelaporan pada level global menguat sejak International Sustainability Standards Board menerbitkan IFRS S1: General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information dan IFRS S2: Climate-related Disclosures pada 2023. Di Indonesia sendiri, Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (DSK-IAI) telah mengesahkan PSPK 1 dan PSPK 2 tentang Pengungkapan Keberlanjutan dan Iklim yang akan berlaku 1 Januari 2027.
Saat ini, perusahaan mencapai tahap co-existence. Dalam hal ini, laporan keuangan dan laporan keberlanjutan diterbitkan berdampingan, tetapi belum mencapai connectivity atau keterhubungan substansial yang memungkinkan pengguna mengaitkan narasi risiko/peluang keberlanjutan dengan angka, asumsi, estimasi, dan pengungkapan laporan keuangan.
Padahal, kebutuhan akan connectivity tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa sebagian isu keberlanjutan mempunyai konsekuensi ekonomi yang relevan bagi investor dan pasar.
Prof. Aria Farah Mita menyampaikan, “Pengungkapan keberlanjutan membantu menjelaskan risiko dan peluang terkait dengan aset dan liabilitas. Selain itu, turut memberikan konteks yang memperkaya interpretasi angka laporan keuangan.”
“Dengan demikian, connectivity dibutuhkan bukan sekadar untuk menghubungkan laporan dan mematuhi standar yang berlaku, melainkan berpotensi memperbaiki kualitas lingkungan informasi, meningkatkan decision usefulness, dan menurunkan information risk. Dengan demikian, connectivity dapat memperjelas hubungan antar-informasi dan memudahkan untuk ditelusuri untuk menilai implikasi ekonomi dari pengungkapan tersebut.”
Connectivity Response Framework (CRF) for Financial Statements diusulkan sebagai kerangka operasional untuk menerjemahkan tuntutan informasi yang saling terhubung ke dalam elemen praktik. Terdiri dari elemen Boundary, Relevance (materiality), Integration (one set of assumptions), Disclosure (bridge notes), Governance, dan External assurance readiness, kerangka ini dapat diterapkan secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan.
Tak hanya itu, CRF berfungsi sebagai elemen uji kesiapan (readiness test) untuk mengetahui apakah narasi sustainability dapat ditelusuri ke angka, asumsi, estimasi, atau pengungkapan laporan keuangan. Selanjutnya apabila keterkaitan tersebut belum tercermin sebagai perubahan angka pada periode berjalan, apakah perbedaan dan alasan utamanya dijelaskan secara jelas, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip ini sejalan dengan penekanan PSPK 1 pada koherensi, bahwa informasi perlu disajikan sebagai satu kesatuan yang menjelaskan konteks dan hubungan antar unsur informasi, serta memungkinkan pengguna menghubungkan risiko/peluang keberlanjutan dengan informasi dalam laporan keuangan.
CRF menjembatani gap antara persyaratan normatif dan implementasi, dengan menekankan peran judgement, ketidakpastian estimasi, dan kualitas Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) sebagai penghubung atau jembatan antara narasi dan angka serta antara financial statement dan sustainability disclosures.
Oleh karena itu, CRF diharapkan tidak hanya bermanfaat sebagai panduan praktis untuk memperkuat pelaporan di Indonesia, tetapi juga menyediakan kerangka konseptual yang dapat digunakan peneliti untuk mengkaji keterhubungan informasi di pasar berkembang, termasuk perbedaan praktik, tantangan implementasi, dan dampaknya terhadap kualitas pelaporan.
—
Prof. Aria Farah Mita merupakan akademisi di bidang akuntansi yang memiliki dedikasi tinggi dalam pengembangan ilmu, khususnya akuntansi keuangan, auditing, governance, dan isu keberlanjutan. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 Akuntansi, S-2 Ilmu Manajemen Keuangan, serta S-3 Ilmu Akuntansi di Universitas Indonesia. Selain itu, ia aktif di organisasi profesi akuntan dan kerap mengikuti berbagai pelatihan dan forum ilmiah nasional maupun internasional yang memperkuat kompetensinya dalam perkembangan standar akuntansi dan isu global seperti IFRS dan ESG.
Sebagai akademisi produktif, Prof. Aria Farah Mita telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi yang membahas adopsi standar akuntansi internasional, kualitas laba, manajemen risiko, implementasi standar akuntansi, serta keberlanjutan. Ia juga berkontribusi dalam penulisan buku referensi, termasuk buku ajar akuntansi keuangan berbasis PSAK dan buku terkait akuntansi UMKM serta pelaporan keuangan. Di luar akademik, ia aktif sebagai instruktur dan konsultan di berbagai lembaga seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), serta Pusat Pengembangan Akuntansi FEB UI, serta memiliki pengalaman sebagai auditor di Ernst & Young Indonesia.
Sepanjang kariernya, Prof. Aria Farah Mita menunjukkan perkembangan yang konsisten hingga mencapai jabatan Guru Besar pada 2025. Ia berpartisipasi dalam berbagai peran strategis, seperti anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI, serta terlibat dalam penyusunan pedoman governansi Indonesia di KNKG dan sebagai asesor LAMEMBA. Prestasinya diakui melalui berbagai penghargaan, termasuk Disertasi Terbaik, Tesis Terbaik, hingga Highly Commended Paper dari Emerald Literati Award. Kiprahnya mencerminkan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu dan peningkatan kualitas profesi akuntan di Indonesia.

