Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Indonesia, Dony Abdul Chalid Bahas Peran Literasi Keuangan dalam Memitigasi Dampak Negatif Inovasi Keuangan
Depok, 4 April 2026 – Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dony Abdul Chalid, S.E., M.M., Ph.D. (Dosen Manajemen FEB UI) sebagai Guru Besar Tetap Universitas Indonesia, pada Sabtu (4/4). Prosesi ini dilaksanakan di Balai Sidang UI, Depok dan disiarkan secara virtual melalui kanal YouTube Universitas Indonesia dan UI Teve.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Surat Keputusan resmi menetapkan Prof. Dony Abdul Chalid sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Manajemen dalam ranting ilmu/kepakaran Manajemen Keuangan dan Perbankan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, terhitung sejak 01 Desember 2025.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dony membahas “Peran Literasi Keuangan dalam Memitigasi Dampak Negatif Inovasi Keuangan”. Ia menekankan bahwa inovasi merupakan kata yang diasosiasikan dengan sesuatu yang bersifat positif. Begitu pun inovasi pada sistem keuangan yang memiliki dampak positif bukan hanya pada sistem keuangan, tetapi juga dari sisi ekonomi secara keseluruhan.
Ia menilai perbaikan sistem keuangan ini akan berdampak pada meningkatnya perputaran uang dan fungsi intermediaries keuangan dan mendukung inklusi keuangan yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, di sisi lain, inovasi keuangan juga berpotensi memicu dampak negatif, seperti kerugian hingga krisis keuangan. Prof. Dony memaparkan krisis keuangan global pada 2008 yang ditimbulkan oleh masalah sektor keuangan di Amerika Serikat. Meskipun krisis merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor, tetapi salah satu faktor penyebabnya adalah menurunnya prinsip kehati-hatian dan moral hazard yang didorong oleh perkembangan instrumen keuangan subprime mortgage.
“Kesadaran akan potensi dampak negatif ini mendorong perlunya meminimalkan dampak negatif dari inovasi keuangan dengan mengimbanginya dengan pengembangan aspek lain,” tuturnya.
Lebih lanjut, Prof. Dony menekankan, perkembangan teknologi termasuk driver utama inovasi keuangan dalam beberapa dekade terakhir, mulai dari perubahan sistem analog ke digital dan perkembangan produk seperti blockchain dan artificial intelligence. Hal tersebut pun turut mengubah pola interaksi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan keuangan individu seperti keputusan investasi, keputusan berutang, atau keputusan dalam menggunakan produk keuangan lainnya.
“Saat ini, inovasi keuangan memudahkan seseorang mengakses informasi produk dan instrumen keuangan tanpa perlu adanya interaksi dengan agen yang mewakili lembaga keuangan atau institusi di pasar keuangan. Namun demikian, kemudahan tersebut juga meningkatkan potensi kesalahan dalam pengambilan keputusan karena bergantung pada kemampuan individu dalam memahami informasi,” ungkap Prof. Dony.
Ia juga menyoroti fenomena menurunnya kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional serta meningkatnya pengaruh generasi Z dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam perilaku investasi. Kondisi ini dinilai dapat mendorong keputusan investasi yang tidak rasional.
Dalam konteks tersebut, Prof. Dony menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai bentuk intervensi untuk memitigasi risiko. Ia menyampaikan, “Literasi keuangan secara luas dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan individu untuk memahami konsep keuangan serta menggunakan pengetahuan tersebut dalam membuat keputusan keuangan yang efektif.”
Literasi keuangan tidak hanya mencakup pemahaman produk keuangan, tetapi juga prinsip dasar keuangan, perilaku keuangan rasional, serta sikap keuangan (financial attitude) yang berorientasi pada tujuan jangka panjang dan kesejahteraan finansial.
Menutup orasinya, Prof. Dony menekankan bahwa literasi keuangan merupakan kompetensi penting dalam menghadapi sistem keuangan modern yang semakin kompleks dan digital. Peningkatannya dinilai sebagai faktor kunci dalam mendorong kesejahteraan masyarakat serta pembangunan ekonomi berkelanjutan, sehingga pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi keuangan perlu memprioritaskan mendukung peningkatan kemampuan finansial dari sisi pendidikan dan kebijakan yang mendukung.
—
Prof. Dony Abdul Chalid adalah seorang akademisi di bidang manajemen yang menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan keilmuan, terutama pada ranah Manajemen Keuangan dan Perbankan. Pendidikan sarjananya di bidang ekonomi dan magister di bidang manajemen ditempuh di Universitas Indonesia, sementara gelar Doktor Manajemen diraih dari University of Bologna, Italia.
Prof. Dony Abdul Chalid telah menempuh berbagai sertifikat profesi serta menerbitkan buku dan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi, yang mengangkat isu manajemen keuangan, perbankan, sektor finansial, serta literasi keuangan.
Tidak hanya berkiprah di dunia akademik, ia pun terlibat sebagai peneliti di sejumlah institusi strategis, di antaranya Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Bappenas, serta berbagai lembaga lainnya. Dalam perjalanan tersebut, ia pun pernah menjalankan sejumlah tanggung jawab penting, seperti Cost Controlling Manager di PT Alfa Abadi Industri, Kepala Laboratorium Studi Manajemen FEB UI, serta Project Manager Shell Livewire Program di PT Shell Indonesia.
Beragam pencapaian tersebut turut mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan, seperti Marco Polo Fellowship Awards dari University of Bologna dan Uni Eropa, Sadli Professorship Award, Scholarship for PhD Program dari The JIPS Progra- The World Bank, serta Tanda Jasa Satyalancana Karya Satya 10 Tahun. Keseluruhan rekam jejak ini menunjukkan kontribusinya yang signifikan dalam memajukan keilmuan sekaligus meningkatkan standar profesional di bidang manajemen di Indonesia.

