FEB UI Gelar Seminar Public Lecture Bahas Pentingnya Kesetaraan Gender Dalam Membentuk Kinerja Ekonomi dan Stabilitas Finansial Suatu Negara

FEB UI Gelar Seminar Public Lecture Bahas Pentingnya Kesetaraan Gender Dalam Membentuk Kinerja Ekonomi dan Stabilitas Finansial Suatu Negara

 

Aska – Komunikasi FEB UI

Depok, 8 April 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melalui Lembaga Demografi menyelenggarakan Seminar Public Lecture bertajuk “Gender Equality and Countries’ Financial and Economic Well-Being: New Evidence from Emerging Economies”. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari National Autonomous University of Mexico (UNAM), Dr. Alicia Girón selaku Direktur Program Studi Asia, Afrika, dan Oseania di National Autonomous University of Mexico, yang memaparkan temuan terbaru terkait peran kesetaraan gender dalam pembangunan ekonomi di negara berkembang.

Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang PLN Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI, Depok yang di moderatori oleh Elda Luciana Pardede, Ph.D. selaku Ketua Program Magister Ekonomi Kependudukan dan Tenaga Kerja FEB UI dan turut hadir pula I Dewa Gede Karma Wisana, Ph.D. selaku Direktur Lembaga Demografi FEB UI.

Dalam sambutannya, Direktur Lembaga Demografi FEB UI menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperkaya perspektif akademik terkait isu gender dan ekonomi.

“Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat menjadi tuan rumah dalam kuliah umum ini. Kehadiran Profesor Alicia Girón dan tamu dari Kedutaan Besar Meksiko tidak hanya memperkaya diskusi akademik, tetapi juga memperkuat kerja sama internasional dalam membahas isu kesetaraan gender, makroekonomi, dan kesejahteraan,” tutur Dewa, pada Rabu (8/4).

Kegiatan di awali dengan paparan Dr. Alicia Girón yang menegaskan bahwa ketimpangan gender masih menjadi tantangan struktural dalam ekonomi global, terutama di negara berkembang. Ia menjelaskan bahwa fenomena financialization kerap memperdalam ketimpangan, sementara social reproduction seperti kerja domestik dan perawatan yang banyak dilakukan perempuan masih kurang mendapat perhatian dalam kebijakan ekonomi makro.

Ia juga menyoroti bahwa dinamika regional, mulai dari Amerika Latin hingga kawasan multipolar seperti BRICS dan Afrika Utara, menunjukkan perbedaan dampak ketimpangan ekonomi dan beban utang terhadap perempuan dan laki-laki.

Selain itu, kesenjangan akses keuangan dan digital masih menjadi isu krusial. Perempuan di banyak negara berkembang menghadapi keterbatasan dalam akses perbankan, kredit, dan pembayaran digital, yang tercermin dalam fenomena micro-financialization of poverty serta gender digital divide.

Meskipun Global Gender Gap Index menunjukkan tren perbaikan, kesenjangan tetap signifikan, terutama dalam partisipasi ekonomi dan pemberdayaan politik. Hal ini menegaskan bahwa kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan keadilan sosial, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kinerja ekonomi dan stabilitas finansial. Alicia pun menekankan pentingnya peran negara dalam mendorong kebijakan publik yang inklusif dan responsif gender, sejalan dengan agenda global seperti SDGs (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 5.

Melalui kegiatan ini, FEB UI berharap dapat memperkaya perspektif akademik dan kebijakan terkait isu gender dan ekonomi, sekaligus mendorong kolaborasi internasional dalam menghasilkan solusi yang lebih inklusif bagi negara berkembang.