Kuliah Umum FEB UI dan BSI Soroti Inovasi Investasi Emas dan Strategi Sachet Business

Kuliah Umum FEB UI dan BSI Soroti Inovasi Investasi Emas dan Strategi Sachet Business

 

Aska – Komunikasi FEB UI

Depok, 10 April 2026 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum bertajuk “Investasi Emas: Dari Logam Mulia ke Aset Digital Sachet Business Strategy: Lesson learned from Bank Syariah Indonesia’s Gold Business” yang menghadirkan Ade Cahyo Nugroho selaku Direktur Finance & Strategy PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk dan Triza Mudita, Ph.D. selaku Dosen Manajemen FEB UI dan Kepala Kantor Komunikasi FEB UI sebagai moderator dalam kegiatan ini yang diselenggarakan di Auditorium Soeria Atmadja, Kampus FEB UI Depok, pada Jumat (10/4).

Dalam paparannya, Ade memulai kuliah umum dengan menjelaskan bahwa kinerja Bank Syariah Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif sejak merger, dengan capaian double digit hingga awal 2026. Pertumbuhan ini mencakup peningkatan aset, pembiayaan, dana pihak ketiga, serta laba bersih, yang juga diiringi dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga, tercermin dari penurunan rasio pembiayaan bermasalah dan cost of credit.

Ia menyoroti bahwa Indonesia merupakan pasar besar dengan populasi tinggi, namun memiliki tantangan daya beli. Hal ini menciptakan paradoks konsumen: keterbatasan finansial, tetapi tetap ingin mengikuti tren. Kondisi tersebut mendorong munculnya strategi adaptif, seperti “sachet strategy”, yang memungkinkan produk lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Konsep ini kemudian diadopsi dalam bisnis emas BSI melalui penyediaan produk investasi yang lebih fleksibel. Ade menjelaskan bahwa tren masyarakat kini mulai bergeser dari kepemilikan emas perhiasan ke emas batangan, serta dari sekadar menabung ke investasi sebagai bagian dari diversifikasi aset. Selain itu, terdapat pergeseran preferensi dari sistem konvensional ke layanan berbasis syariah, yang didukung oleh meningkatnya inklusi keuangan.

Dalam membangun model bisnis, BSI menerapkan empat langkah utama, yakni menentukan target pasar, memperkuat organisasi, menghadirkan solusi produk yang relevan, serta membangun positioning yang tepat. Implementasi strategi ini diwujudkan melalui inovasi digital seperti platform BYOND, yang memungkinkan pembelian emas mulai dari nominal kecil, transaksi real time, serta akses 24/7 dengan jaminan keamanan berbasis emas fisik.

Melalui pendekatan tersebut, BSI tidak hanya memperluas akses kepemilikan emas, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai bank syariah sekaligus bank emas yang mampu menjangkau beragam segmen nasabah. Ade menegaskan bahwa kemampuan membaca peluang di tengah tantangan menjadi kunci utama keberlanjutan bisnis di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

Kegiatan kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang komprehensif bagi mahasiswa dan civitas akademika Universitas Indonesia mengenai dinamika investasi emas serta transformasinya ke arah digital. Diskusi yang berlangsung juga membuka perspektif baru terkait pentingnya inovasi model bisnis yang adaptif terhadap perilaku konsumen dan perkembangan industri keuangan syariah.