FEB UI Selenggarakan Kuliah Umum Bersama Sri Mulyani Bahas Dinamika Ekonomi Makro Global dan Indonesia
Rayya – Komunikasi FEB UI
Depok, 22 April 2026 – Dalam rangka memperluas wawasan akademik mahasiswa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kuliah umum bersama Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D., Menteri Keuangan Republik Indonesia Periode , dengan topik “Aggregate Demand & Aggregate Supply: Theory, Shocks & Real-World Application”. Kegiatan ini dilaksanakan di Auditorium Soeria Atmadja FEB UI, pada Rabu (22/4).
Dalam pemaparannya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa fluktuasi ekonomi merupakan fenomena yang tidak teratur dan sulit diprediksi, namun memiliki pola keterkaitan antarvariabel makroekonomi. Ia menyoroti bahwa penurunan output ekonomi umumnya diikuti oleh peningkatan tingkat pengangguran, serta penurunan investasi dan konsumsi secara simultan.
Lebih lanjut, ia menguraikan kerangka Aggregate Demand Aggregate Supply (ADAS) sebagai alat analisis utama dalam memahami dinamika jangka pendek perekonomian. Dalam model tersebut, kurva permintaan agregat (AD) dipengaruhi oleh konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor neto, sementara penawaran agregat (AS) mencerminkan kapasitas produksi ekonomi dalam jangka pendek dan panjang.
Sri Mulyani juga menekankan perbedaan antara perspektif ekonomi klasik dalam jangka panjang di mana variabel riil ditentukan oleh faktor fundamental seperti tenaga kerja dan teknologi dengan realitas jangka pendek yang dipengaruhi oleh faktor nominal, termasuk kebijakan moneter dan ekspektasi harga.
Dalam konteks empiris, ia mengkaji berbagai episode krisis ekonomi global, seperti Depresi Besar 1930-an, krisis keuangan 2008, hingga pandemi COVID-19. Menurutnya, setiap krisis memiliki karakteristik guncangan yang berbeda, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, sehingga membutuhkan respons kebijakan yang spesifik.
Ia juga menyoroti tantangan kebijakan dalam menghadapi guncangan penawaran, seperti kenaikan harga energi dan pangan, yang dapat memicu stagflation kondisi ketika inflasi meningkat namun pertumbuhan ekonomi melambat. Dalam situasi tersebut, pembuat kebijakan dihadapkan pada trade-off antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Mengaitkan dengan konteks domestik, Sri Mulyani menjelaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai guncangan ekonomi, mulai dari krisis 1998 hingga pandemi COVID-19. Respons kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pemulihan.
Kuliah umum ini menjadi bagian dari komitmen FEB UI dalam menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan kebijakan nyata, sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap dinamika ekonomi global yang kompleks dan multidimensional.

