Mobilitas Tenaga Kerja di Asia Timur dan Pasifik Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Global

Mobilitas Tenaga Kerja di Asia Timur dan Pasifik Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Global

 

Jessica – Komunikasi FEB UI

Depok, 30 April 2026  Tren migrasi tenaga kerja di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) menunjukkan perkembangan yang semakin positif, seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja global dan peluang ekonomi lintas negara. Data terbaru menunjukkan bahwa migrasi tidak hanya menjadi solusi atas kekurangan tenaga kerja di negara tujuan, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan di negara asal.

Dalam paparan seminar Labor Migration, Soonhwa Yi selaku pembicara memaparkan dengan sekitar 5 juta warga Indonesia bekerja di luar negeri, migrasi menjadi salah satu motor penting dalam mendukung perekonomian nasional. Pekerja migran terbukti mampu meningkatkan pendapatan secara signifikan. Sebagai contoh, pekerja manufaktur Indonesia dapat memperoleh penghasilan hingga 7 kali lebih tinggi di Singapura, bahkan mencapai 14 kali lipat di Korea. Kenaikan pendapatan ini membuka peluang peningkatan kualitas hidup bagi keluarga di tanah air.

Selain itu, remitansi atau kiriman uang dari pekerja migran memberikan dampak nyata bagi pengurangan kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di beberapa negara, remitansi terbukti meningkatkan konsumsi rumah tangga hingga 12 hingga 14 persen serta mendorong investasi pada pendidikan dan kesehatan anak. Di Indonesia sendiri, nilai remitansi diperkirakan mencapai 14 hingga 16 miliar dolar AS pada tahun 2024.

Di sisi lain, negara-negara maju di kawasan EAP seperti Jepang dan Korea Selatan menghadapi tantangan penuaan populasi dan kekurangan tenaga kerja. Kondisi ini membuka peluang besar bagi tenaga kerja muda dari negara berkembang untuk mengisi kebutuhan tersebut. Migrasi tenaga kerja pun menjadi solusi strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan produktivitas di negara tujuan.

Tren ini juga didukung oleh meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri. Survei global menunjukkan bahwa keinginan untuk bermigrasi meningkat signifikan, terutama di Asia Tenggara. Hal ini mencerminkan semakin terbukanya akses informasi dan peluang kerja internasional bagi masyarakat.

Pemerintah di berbagai negara kini mulai beradaptasi dengan kebijakan yang lebih inklusif, seperti membuka jalur peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan perlindungan bagi pekerja migran. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan sistem migrasi yang lebih aman, teratur, dan menguntungkan bagi semua pihak.

Dengan pengelolaan yang tepat, migrasi tenaga kerja tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga strategi jangka panjang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat kerja sama internasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara global.