Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Widjaja Soetjipto Paparkan Signifikansi Perilaku Stratejik bagi Kinerja Organisasi

Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Widjaja Soetjipto Paparkan Signifikansi Perilaku Stratejik bagi Kinerja Organisasi

 

Depok, 23 Mei 2026 – Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Budi Widjaja Soetjipto, S.E., M.B.A., Ph.D. (Dosen Departemen Manajemen FEB UI) sebagai Guru Besar Tetap Universitas Indonesia, pada Sabtu (23/5). Prosesi pengukuhan berlangsung di Balai Sidang UI, Depok, dan disiarkan secara virtual melalui kanal YouTube Universitas Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Surat Keputusan resmi menetapkan Prof. Budi Widjaja Soetjipto sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Manajemen dalam ranting ilmu/kepakaran Perilaku Stratejik dalam Organisasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, terhitung sejak 01 Desember 2025.

Prof. Budi pada orasi ilmiahnya mengangkat topik Memahami Signifikan Perilaku Stratejik bagi Kinerja Organisasiyang memaparkan perkembangan perilaku manusia sebagai fondasi pengambilan keputusan, eksekusi strategi, inovasi, kolaborasi, hingga integritas dalam organisasi.

Menurutnya, perilaku manusia merupakan respons individu terhadap rangsangan internal maupun eksternal yang dipengaruhi lingkungan sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup. Pendekatan Stimulus-Organism-Response (S–O–R), teori perilaku terencana, dan Social Cognitive Theory menjelaskan bahwa perilaku terbentuk dari faktor internal dan eksternal, sehingga strategi akan bermakna jika diwujudkan melalui perilaku yang tepat.

Prof. Budi juga menguraikan konsep perilaku stratejik sebagai perilaku yang berkontribusi langsung pada pembentukan, pemilihan, dan implementasi strategi organisasi. Spektrumnya meliputi autonomous versus induced strategic behavior, ambidexterity, perilaku pengambilan keputusan, perilaku eksekusi, perilaku inovatif, perilaku kolaboratif, hingga perilaku koruptif.

Autonomous strategic behavior menyoroti inisiatif kewirausahaan internal yang memunculkan strategi baru, sedangkan induced strategic behavior menekankan perilaku yang sengaja dibingkai dan diarahkan oleh strategi dan struktur yang ada. Sementara itu, ambidexterity menuntut organisasi menyeimbangkan perilaku eksploratif dan eksploitatif agar terhindar dari success trap maupun failure trap,” ungkapnya.

Ia menyebut perilaku pengambilan keputusan diartikulasikan sebagai sisi hulu perilaku stratejik. Kualitas strategi ditentukan oleh cara organisasi merancang proses, struktur, dan budaya keputusan untuk meminimalkan bias dan memaksimalkan pembelajaran.

Lebih lanjut Prof Budi menjelaskan, “Perilaku eksekusi merupakan penghubung antara strategi dan kinerja. Strategi kerap gagal bukan karena konsepnya lemah, melainkan eksekusi yang tidak disiplin, tidak fokus, dan tidak konsisten. Sejatinya, strategy to performance gap dapat teratasi dengan eksekusi yang terarah.”

Perilaku inovatif dinilai semakin landasan strategi inovasi dan kapabilitas dinamis. Dalam konteks strategi digital, perilaku inovatif dinilai semakin strategis karena kecepatan dan kualitas respons inovatif menentukan daya saing jangka panjang.

Selain itu, perilaku kolaboratif memungkinkan integrasi sumber daya, koordinasi lintas fungsi, dan pemecahan masalah kolektif yang dibutuhkan strategi berbasis sinergi dan ekosistem. Dalam sektor publik maupun privat, kolaborasi lintas unit dan antarorganisasi dinilai memperkuat implementasi kebijakan dan inovasi, terutama di lingkungan yang kompleks dan saling terhubung.

Prof. Budi pun turut mengulas perilaku koruptif sebagai bentuk perilaku stratejik yang adaptif, tetapi destruktif. Korupsi bukan hanya penyimpangan individual, melainkan pola tindakan untuk mengamankan rente, akses, dan posisi dalam organisasi maupun  jaringan kekuasaan.

“Dalam kondisi tersebut, perilaku yang menyimpang bahkan dapat dipersepsikan sebagai cara kerja normal atau bentuk loyalitas terhadap organisasi, terutama ketika orientasi hasil tidak diimbangi dengan integritas,” imbuhnya.

Prof. Budi menyimpulkan, kinerja dan keunggulan organisasi di sektor bisnis, publik, maupun nirlaba sangat ditentukan oleh kualitas perilaku stratejik, termasuk dalam mengambil keputusan, mengeksekusi, berinovasi, berkolaborasi, serta menahan diri dari perilaku destruktif.

Akhir kata, ia mengajak akademisi dan praktisi untuk menyebarluaskan serta mempraktikkan perilaku stratejik secara baik dan berintegritas agar mendatangkan kinerja optimal bagi organisasi, negara, dan masyarakat.

Prof. Budi Widjaja Soetjipto dikenal sebagai akademisi di bidang Manajemen dengan fokus pada perilaku organisasi, manajemen stratejik, kapabilitas dinamis, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Ia menuntaskan pendidikan S-1 Manajemen di Universitas Indonesia, kemudian meraih gelar Master of Business Administration dan Ph.D. in Business Administration dari Cleveland State University.

Selain sebagai dosen, Prof. Budi aktif di dunia profesional, ia pernah dipercaya sebagai Kepala Lembaga Management FEB UI, Anggota Dewan Pengupahan Nasional, Komisaris Independen PT Pertamina Geothermal Energy, Tbk, Direktur Eksekutif Institut Pengembangan Manajemen Indonesia, Dekan Sekolah Bisnis Sampoerna, dan Wakil Rektor Universitas Pertamina. Saat ini, Prof. Budi membantu Dewan Komisaris PT Bukit Asam (Persero) Tbk sebagai Anggota Komite Nominasi dan Remunerasi.

Berbagai artikel ilmiah maupun book chapters telah dipublikasikan. Prof. Budi pun aktif berbagi pengetahuan di berbagai konferensi internasional, perusahaan, kementerian, atau lembaga. Penghargaan yang telah diraih di antaranya Satyalencana Karya Satya 30 tahun, Dosen Terbaik Program Studi S-1 Reguler Manajemen FEB UI Tahun 2024, dan Dosen S-3 Terbaik PPIM FEB UI Tahun 2025.