Kuliah Tamu FEB UI Bersama ParagonCorp: Team Dynamics that Foster Creativity & Innovation: Cross-Functional Teams That Turn Curiosity Into Impact
Rifdah – Komunikasi FEB UI
Depok, 5 November 2025 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menggelar kuliah tamu bersama Co-Founder ParagonCorp Salman Subakat bertajuk “Team Dynamics that Foster Creativity & Innovation: Cross-Functional Teams That Turn Curiosity Into Impact” di Aula Student Center, pada Rabu (5/11).
Di hadapan mahasiswa, Salman memaparkan, keragaman latar belakang dan sudut pandang dalam sebuah tim bukanlah halangan, melainkan kekuatan utama yang mendorong inovasi dan dinamika positif, “Seorang pemimpin harus mampu memimpin dengan empati, memahami perasaan dan kondisi tim terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.”
Sebagai bagian dari pembahasan mengenai pentingnya empati dalam kepemimpinan, ia memperkenalkan konsep Ladder of Inference. Konsep ini mengingatkan bahwa saat seorang pemimpin mengambil keputusan, proses tersebut kerap dibentuk oleh asumsi dan keyakinan pribadi yang dibangun dari data terbatas.
“Proses pengambilan keputusan dimulai dari pengamatan data, kemudian melalui tahapan pemberian makna, asumsi, hingga akhirnya kesimpulan. Kesimpulan tersebut yang akan melandasi keyakinan pribadi untuk mengambil sebuah tindakan. Namun, kita perlu kesadaran diri adanya kemungkinan bias,” terang Salman.
Lebih lanjut, menurut Salman, kunci inovasi sukses adalah pengelolaan paradoks yang menyeimbangkan kesediaan untuk berkolaborasi dan bekerja keras. Sebuah tim perlu membangun sense of community yang kuat serta kemampuan mengelola creative abrasion (konflik konstruktif) dan creative agility (kemampuan beradaptasi cepat).
“Ini akan menciptakan sebuah ekosistem yang tidak hanya menghargai perbedaan, tetapi memiliki aturan keterlibatan yang jelas sehingga kolaborasi berlangsung produktif untuk mencapai tujuan bersama,” ungkapnya.
Kuliah ini juga membahas model X-Teams dari MIT Sloan yang menekankan kapabilitas inti untuk sukses di lingkungan yang dinamis. Kapabilitas pertama, Ambassadorship, memastikan ide tim selaras dengan strategi organisasi dan membangun dukungan dari stakeholder internal maupun eksternal. Kedua, Sensemaking, memungkinkan tim untuk secara aktif memahami pasar, termasuk pesaing, kebutuhan pelanggan, dan perubahan teknologi. Terakhir, Task Coordination, berfokus pada kerja sama tim dengan kelompok lain di dalam dan luar organisasi untuk memastikan sinergi yang efektif.
Salman berpesan, lebih dari sekadar ide, inovasi membutuhkan pemimpin yang menyesuaikan kendali, tim yang menghargai perbedaan, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Melalui interaksi dua arah ini, mahasiswa didorong untuk menerapkan prinsip cross-functional teams agar mampu mengubah rasa ingin tahu mereka menjadi dampak nyata.




