Kuliah Umum Pengantar Ekonomi Bersama Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara: Measuring National Output, National Income , and Welfare Indicator

Kuliah Umum Pengantar Ekonomi Bersama Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara: Measuring National Output, National Income , and Welfare Indicator

 

Nabila – Komunikasi FEB UI

Depok, 9 Februari 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum Pengantar Ekonomi 2 yang mengusung tema “Measuring National Output, National Income , and Welfare Indicator’ . Kegiatan berlangsung di Auditorium Soeria Atmadja, Kampus FEB UI Depok, pada Selasa (9/2).

Kuliah Umum ini menghadirkan Prof. Suahasil Nazara selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Guru Besar FEB UI. Dalam pemaparannya, Prof. Suahasil menyampaikan bahwa kebutuhan dan keinginan manusia bersifat tidak terbatas. Mikroekonomi berfokus pada pengambilan keputusan oleh rumah tangga dan perusahaan serta interaksi di antara keduanya di dalam pasar. Sementara itu, makroekonomi mengkaji berbagai faktor dan tren yang memengaruhi perekonomian secara keseluruhan. 

“Keputusan rasional pada tingkat individu tidak selalu menghasilkan stabilitas pada tingkat makro, karena guncangan terhadap satu atau beberapa faktor ekonomi dapat menyebar dan berdampak luas pada perekonomian nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto merupakan total nilai pasar dari seluruh barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam suatu periode tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berada di dalam suatu negara. GDP menjadi salah satu indikator utama yang digunakan untuk menilai kinerja dan perkembangan perekonomian nasional. 

Prof. Suahasil menambahkan, pertumbuhan GDP nominal tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan GDP riil, yang mencerminkan adanya pengaruh inflasi dan pergerakan PDB. Dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir, pertumbuhan GDP riil Indonesia relatif stabil di kisaran lima persen. Sejalan dengan hal itu, tingkat inflasi menunjukkan tren penurunan yang konsisten dan saat ini berada pada kisaran tiga persen, menandakan stabilitas harga yang semakin terjaga.

Selain itu, ia turut mengulas mengenai inflasi. Ia menjelaskan bahwa inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam periode tertentu. Inflasi memiliki peran penting karena mencerminkan tingkat stabilitas harga dalam perekonomian.

Selain membahas GDP, Prof. Suahasil juga menjelaskan mengenai inflasi. Inflasi menjadi indikator penting karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, upah riil, serta tingkat kemiskinan. Menurutnya, inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga dapat menekan daya saing suku bunga riil dan berpotensi mendorong terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga menjadi salah satu tujuan utama dalam kebijakan makroekonomi.

“Komponen inflasi yang cenderung stabil dan persisten mencerminkan adanya tekanan fundamental dalam perekonomian. Tekanan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti interaksi permintaan dan penawaran,pergerakan nilai tukar, harga komoditas global, kondisi perekonomian dunia, serta ekspektasi inflasi masyarakat,” lanjutnya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Suahasil menekankan pentingnya menjaga tujuan multidimensi dalam kebijakan makroekonomi yang mencakup stabilisasi, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Stabilisasi diperlukan agar perekonomian tetap berjalan, pertumbuhan bertujuan memperbesar kapasitas ekonomi, sementara kesejahteraan memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.