Ari Kuncoro : Isyarat Bank Sentral AS

Ari Kuncoro : Isyarat Bank Sentral AS

(Ari Kuncoro, Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)

Salah satu yang membedakan masa kepresidenan Donald Trump dengan presiden-presiden sebelumnya adalah penggunaan media masa untuk mengekspresikan kekecewaannya pada Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) tentang kebijakan suku bunga acuan. Trump sampai mengancam akan memberhentikannya.

Pertama kali diungkapkan Desember 2018, ketika The Fed menaikkan suku bunga saat perekonomian AS mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa resesi akan datang dalam 1 atau 2 tahun ke depan. Tanda-tanda itu sudah terlihat sejak 4 Desember 2018, ketika untuk pertama kalinya terjadi inverted yield curve (imbal hasil jangka pendek obligasi pemerintah AS lebih tinggi dari imbal hasil jangka Panjang).

Ancaman pemecatan tersebut kemudian tidak terdengar lagi karena perekonomian AS masih terus menggeliat, menunjukkan tanda-tanda ekspansi dengan angka inflasi yang terkendali. Gejala inverted yields curve juga melemah mulai April 2019. Untuk triwulan I-2019, ekonomi AS tumbuh 3,1 persen (yoy), naik dari 2,2 persen pada triwulan sebelumnya.

“Indikator inverted yields curve mulai berkedip-kedip kembali pada Mei 2019.”

Indikator inverted yields curve mulai berkedip-kedip kembali pada Mei 2019. Kali ini dibarengi beberapa indikasi lain, seperti melemahnya volume pengangkutan barang lintas negara bagian dengan menggunakan truk. Beberapa perusahaan besar, seperti Nike, Apple, Caterpillar sejak Mei 2019, memberikan peringatan tentang melemahnya bisnis mereka yang ditandai dengan menurunnya penjualan dan keuntungan.

Perang dagang AS-China dituding menjadi penyebabnya. Trump yang akan ikut pemilihan presiden tahun 2020 untuk masa jabatan kedua mulai mencium gelagat ini. Ia mulai meniupkan kembali wacana perlunya The Fed menurunkan tingkat bunga. Yang jadi sasaran adalah The Fed, ancaman pemecatan Ketua The Fed kemudian terdengar lagi.

Kurva Phillips
Entah karena tekanan Trump atau saatnya memang sudah tiba, The Fed jadi lebih akomodotif terhadap wacana penurunan suku bunga acuan. Ketua The Fed, Jerome Powell, baru-baru ini mengatakan bahwa konsep Kurva Phillips ini sudah mati karena hubungan antara tingkat pengangguran dan inflasi sudah sangat lemah.

Akibatnya, sangat mungkin bagi The Fed menurunkan suku bunga untuk menjaga agar tingkat kesempatan kerja tetap berada sedekat mungkin dengan kondisi kesempatan kerja penuh (full employment) tanpa perlu khawatir peningkatan laju inflasi. Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan Dewan Gubernur The Fed akhir Juli 2019 dan mengirim sinyal kuat bahwa suku bunga acuan AS akan turun untuk melunakkan resesi yang akan datang di AS (soft landing).

“Pemodal internasional di AS mengalokasikan lebih banyak portepelnya ke negara-negara emerging markets.”

Tampaknya, pemodal internasional di AS menyambut sinyal ini dengan mengalokasikan lebih banyak portepelnya ke negara-negara emerging markets. Untuk Indonesia, antrean itu sudah terlihat di pasar saham sejak April 2019.
Sampai akhir Juni 2019, seiring putusan yang melegakan dari Mahkamah Konstitusi, akumulasi modal masuk di pasar saham sudah mencapai hampir 5 miliar dollar AS. Hal ini membawa dampak positif pada IHSG dan rupiah yang sampai Jumat (19/7/2019) telah menguat dari kisaran Rp 14.200 per dollar AS sepekan sebelumnya ke Rp 13.896 per dollar AS.

Neraca perdagangan juga menunjukkan perbaikan walau surplusnya masih tipis. Pada Mei 2019, neraca perdagangan Indonesia surplus 210 juta dollar AS. Ekspor tercatat naik 12,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sementara impor turun 5,62 persen. Neraca perdagangan Juni 2019 juga membukukan surplus. Dua bulan berturut-turut neraca surplus, walau masih jauh dari ideal, memberikan secercah cahaya, menambahkan faktor-faktor positif indikator perekonomian Indonesia.

Antisipasi
Faktor-faktor positif di atas, ditambah rendahnya inflasi (Mei dan Juni masing-masing 0,68 dan 0,55 persen) membuat Bank Indonesia (BI) menggunakan kesempatan untuk bergerak mendahului pertemuan The Fed akhir Juli 2019. Suku bunga acuan BI diturunkan 25 basis poin ke 5,75 persen.

Sisi konsumen sudah menunjukan ekspektasi yang positif (survei BI). Indeks keinginan untuk membeli barang-barang tahan lama (terutama barang-barang elektronik tidak termasuk kendaraan) meningkat lagi ke 116,5 pada Juni 2019, dari 115,6 pada bulan sebelumnya. Walaupun demikian, dalam kategori barang tahan lama kendaraan bermotor, penjualannya 5 bulan pertama 2019 turun 14,72 persen dibandingkan periode yang sama di 2018. Sektor otomotif akan terbantu penurunan suku bunga ini.

Sektor properti yang memiliki multiplier yang besar, tahun ini sudah mendapatkan insentif perpajakan, diperkirakan juga akan memperoleh keuntungan cukup besar dari penurunan suku bunga. Sampai triwulan I-2019, sisi produksi masih mengalami kelembaman sebagai residu Pilpres 2019.

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) turun tipis dari 104,71 di triwulan IV-2018 ke 102,1 di triwulan sebelumnya. Walaupun akan ada jeda antara penurunan suku bunga acuan dan penurunan suku bunga kredit, penurunan suku bunga ini diharapkan akan mendorong sisi produksi. Seiring perbaikan indeks tendensi bisnis (ITB) yang pada triwulan II-2019 tercatat 106,44, penurunan suku bunga diharapkan meningkat pertumbuhan investasi riel kembali ke 8 persen per tahun, bahkan lebih di triwulan III dan IV 2019.

Pidato Presiden Joko Widodo pada 14 Juli 2019 sudah memberikan jangkar bagaimana memanfaatkan perekonomian domestik, daya beli kelas menengah, diaspora Indonesia, sektor pendidikan dan reformasi birokrasi sebagai strategi besar kebijakan kontra-siklus bisnis dunia yang sekarang sedang melambat.

Pidato tersebut juga meletakkan dasar-dasar penguatan daya saing nasional dalam memasuki rantai pasokan dunia. Sinergi kebijakan suku bunga acuan BI yang mengantisipasi The Fed merupakan daya dorong tambahan seperti afterburner pada mesin pesawat.

(Ari Kuncoro, Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)

Sumber : Harian Kompas 23 Juli 2019