Ingin BUMN Go Global? Inilah Strategi yang Dibahas dalam Talk Series Bersama LM FEB UI

0

Ingin BUMN Go Global? Inilah Strategi yang Dibahas dalam Talk Series Bersama LM FEB UI

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

JAKARTA – Pembentukan Kabinet Presiden Joko Widodo Jilid 2 dengan tekanan bahwa BUMN Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing plus mulai masuk ke pasar global bisa dijadikan momentum untuk segera bergerak. Dengan komposisi baru dimana Menteri BUMN dibantu oleh 2 Wamen diharapkan dapat mendongkrak kinerja.

Pengelolaan BUMN ke depan lebih menekankan aspek sebagai institusi korporasi, bukan lagi pada aspek birokrasinya. Untuk itu, Lembaga Manajemen FEB UI selenggarakan BUMN Power Talk Series dengan tema “BUMN Going Global–Strategi dan Rencana Aksi” untuk menjawab permasalahan dan strategi ke depan BUMN untuk menuju global bersama para narasumber baik praktisi, pemerintahan, dan BUMN yang berlangsung di ruang Krakatau, Hotel Novotel, Cikini, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

BUMN Power Talk Series ini dibuka oleh Kepala Lembaga Manajemen FEB UI. Dilanjutkan dengan keynote speaker dari Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi. Setelah itu, sesi pemaparan materi yang dibagi dua topik, yaitu Topik 1 mengenai Overview Kinerja BUMN & Tantangan Strategis Masa Depan dan Topik 2 mengenai BUMN Goes Global: Strategi dan Rencana Aksi.

Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi, Arya Sinulingga memberikan keynote speaker bahwa tantangan BUMN saat ini ialah timpangan pendapatan BUMN yang menunjukkan pendapatan 210 triliun & 76% dari 15 perusahaan plat merah, banyaknya anak usaha BUMN yang memiliki irisan usaha, struktur gemuk & inefisien di Kementerian BUMN dan Direksi/Komisaris, dan review ulang aturan likuidasi BUMN.

“Maka, untuk mengatasi tantangan tersebut, Menteri BUMN mengambil 4 kebijakan strategi, di antaranya reformasi birokrasi dengan memangkas 7 Deputi menjadi 3 Deputi (Hukum, SDM, Keuangan), sekretaris Menteri fokus administrasi, reformasi birokrasi dalam 6 bulan masa jabatan Menteri BUMN. Selanjutnya, restrukturisasi utang-utang BUMN dan mengembalikan lini bisnis inti perusahaan milik negara. Dan terakhir, prioritas utama sektor kuliner, energi & health security tidak hanya dalam negeri tetapi juga pasar global,” ucapnya.

“Menteri BUMN Erick Thohir tidak memukul bawah tapi langsung memukul pucuk pimpinannya,” tegas Arya Sinulingga di akhir keynote speakernya.

Topik 1: Overview Kinerja BUMN & Tantangan Strategis Masa Depan

Willem A. Makaliwe selaku Wakabid Konsultasi Riset Lembaga Manajemen (LM) FEB UI, menyampaikan bahwa isu makroekonomi yang mendesak terkait defisit transaksi berjalan meliputi defisit transaksi jasa, defisit migas dan surplus non-migas yang tipis dan inflasi yang masih di atas 3%. Ketidakpastian arah global makroekonomi masih berlanjut dari tahun 2018 dan 2019, namun tidak sampai mengantar pada resesi ekonomi. Sengketa perdagangan pada akhirnya mengakibatkan kerugian pada masing-masing negara. Spread suku bunga perbankan yang masih besar akibat ketergantungan interest-based yang masih tinggi. Defisit anggaran yang terus-menerus sehingga dapat menciptakan fiscal unsustainability. Tantangan ke depannya terkait pendekatan mikro dibutuhkan dalam memahami persoalan yang dihadapi dunia usaha dan industri.

Toto Pranoto selaku Kepala Lembaga Manajemen FEB UI memaparkan bahwa peran BUMN dalam perekonomian global semakin menguatkan eksistensi dalam bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Indonesia mencatatkan diri sebagai salah satu negara dengan kontribusi BUMN terhadap perekonomian domestik cukup signifikan. Total BUMN tahun 2018 dari segi aset sebesar 8.118 triliun, revenue sebesar 2.360 triliun, dan laba bersih sebesar 154 triliun. Performa BUMN di Indonesia saat ini menunjukkan suatu kondisi Pareto dimana sekitar 80% dari total kontribusi pendapatan BUMN hanya disumbang oleh sekitar 20% dari total perusahaan saja. Ini artinya banyak BUMN yang belum beroperasi secara optimal.

Opsi holding yang harus diterapkan BUMN meliputi hands on ownership, finansial sponsorship, synergy creation, strategic guidance, functional leadership, dan hands on management. Maka, langkah selanjutnya BUMN paska pembentukan holding yakni adaptasi budaya organisasi, penyatuan kelembagaan (termasuk SDM & proses bisnis), mekanisme penyertaan modal pemerintah, dan kendali pemerintah terhadap PGN.

“Cara memperkuat postur daya saing BUMN masa depan dengan meningkatkan jumlah BUMN masuk dalam kategori contributors, melakukan restrukturisasi (spin-off) bagi BUMN yang kurang sehat secara internal (keuangan) dan kontribusinya untuk sektor publik sudah minimal, dan spin-off diharapkan membuat span of control ke BUMN lebih ramping,” jelas Toto Pranoto.

Topik 2: BUMN Goes Global–Strategi dan Rencana Aksi

Budi Noviantoro selaku Direktur Utama PT INKA (Persero) mengatakan rencana strategis PT INKA menembus pasar ekspor dengan kesuksesan mencapai stage dua dengan melakukan inovasi & transformasi teknologi secara mandiri. Untuk mencapai stage tiga/lebih maju & berpendapatan lebih tinggi, INKA harus menguasai teknologi, menghasilkan kualitas produk yang baik & menambah added value dari lingkup bisnis perkeretaapian.

Destiawan Soewardjono selaku Direktur Operasional III PT Wijaya Karya (WIKA) Persero, Tbk, meneruskan bahwa strategi operasi WIKA telah menjajaki bisnis konstruksi di Afrika sejak tahun 2007 bekerjasama dengan Kajima. Semenjak itu, aktif road show di negara Afrika sebelum pemerintah Indonesia. Selain itu, menjalin kerjasama dengan local partner, BUMN Indonesia, perusahaan asing & investor. Kemudian, menjadikan Kemlu RI beserta para mitra strategis & juga pintu networking bagi pemangku kepentingan/stakeholder di negara sasaran WIKA dan aktif berpartisipasi dalam event Internasional yang diselenggarakan oleh Kemlu RI. Membentuk SPV baru untuk WIKA Internasional sebagai induk yang beroperasi di luar negeri dan adanya penawaran opsi skema-skema pendanaan proyek strategis. Sehingga, memperkuat tim marketing WIKA baik di kantor pusat maupun di cabang luar negeri.

Sri Harsi Teteki selaku Direktur Pemasaran Penelitian & Pengembangan 1 PT Bio Farma, menyambungkan bahwa strategi Bio Farma untuk melebarkan sayap usahanya dengan regulasi pro pertumbuhan industri, SDM yang kompeten, R&D yang berkolaboratif, manufacturing berkualitas & efisien, infrastruktur mendukung pertumbuhan industri, dan forum ABGC.

Selain itu, program perluasan pasar ekspor Bio Farma meliputi perluasan pasar dengan produk existing (vaksin dan bulk), optimalisasi penjualan bulk melalui penawaran program kemandirian produksi vaksin, dan peningkatan hubungan/networking dengan lembaga pemerintah dalam rangka mencari peluang pasar baru.

“Penciptaan 7 nilai dari holding BUMN Farmasi dengan peningkatan dominasi produk dalam area fokus, maksimalisasi efisiensi & produktivitas, penguatan rantai nilai secara keseluruhan, mengurangi impor & meningkatkan ekspor, memajukan inovasi & sains melalui penelitian & pengembangan, menciptakan sinergi dengan ekosistem sektor kesehatan Nasional, dan diversifikasi bisnis ke segmen lifestyle,” tutupnya. (Des)