Gubernur BI pada Kuliah Umum MM FEB UI: Bersatu, Bertahan, Pulihkan Ekonomi

0

Gubernur BI pada Kuliah Umum MM FEB UI: Bersatu, Bertahan, Pulihkan Ekonomi

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (MM FEB UI), mengadakan Kuliah Umum bersama Perry Warjiyo, Ph.D., Gubernur Bank Indonesia. Topik kuliah umum secara daring  tersebut “Bersatu, Bertahan, Pulihkan Ekonomi: Koordinasi Kebijakan Nasional untuk Mitigasi Covid-19” dipandu oleh Rofikoh Rokhim, Ph.D., Ketua Program Studi MM FEB UI, pada Jumat (5/6/2020).

Perry Warjiyo, memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi global di masa pandemi Covid-19, diprakirakan lebih rendah dari asumsi sebelumnya, yaitu menjadi -2,2% pada 2020 dan meningkat ke 5,2 % pada 2021. Harga minyak Minas rata-rata USD31 per barel dan Harga Komoditas Ekspor Indonesia (HKEI) turun -14,2% sebelum meningkat 12,9% pada 2021. Sementara itu, suku bunga bank Sentral Fed AS diperkirakan tetap 0,25% pada 2020 dan 2021.

Penerapan PSBB di berbagai wilayah diasumsikan mencakup sekitar 70% dari perekonomian Nasional. Respon kebijakan ekonomi yang ditempuh, khususnya stimulus fiskal dengan defisit fiskal yang lebih besar dan program pemulihan ekonomi Nasional oleh pemerintah, stimulus moneter dan makroprudensial oleh Bank Indonesia, serta restrukturisasi kredit dan pelonggaran sejumlah ketentuan makroprudensial oleh OJK.

Prospek PDB 2020 berisiko lebih rendah 2,3% dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi diusahakan dapat sekitar 2,3% pada 2020 dengan respon kebijakan, meskipun berisiko lebih rendah dari perkiraan yang awalnya tumbuh 2,97% pada Q1-2020. Dampak Covid-19 akan paling terasa pada Q2 dan Q3, baru kemudian membaik di Q4-2020. Inflasi pada 2020 diprakirakan rendah dan stabil di dalam kisaran sasaran 3,0+-1%. Sedangkan, nilai tukar rupiah menguat ke sekitar Rp14.100 per dolar AS dewasa ini, dari sekitar Rp16.200 pada awal April 2020, karena capital outflows yang besar akibat kepanikan pasar keuangan global sebagai reaksi terhadap merebaknya Covid-19 di seluruh dunia.

Namun sebaliknya, PDB akan meningkat tinggi pada 2021 berkisar 6-7%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2021 akan meningkat tinggi  dengan peningkatan ekonomi global dan respon kebijakan di samping base effect. Tingkat inflasi juga diperkirakan masih terkendali dalam kisaran 3+-1% dan nilai tukar rupiah juga diperkirakan akan tetap stabil dan berpeluang menguat pada 2021.

Kebijakan penanganan untuk memutus mata rantai Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia sudah dilakukan seperti lockdown, rapid and massive test, travel ban/restriction, social and physical distancing, work from home, study from home, larangan kumpulan massa, dan hukuman/denda atau sanksi.

“Untuk mendukung keberhasilan kebijakan tersebut, maka perlu kebijakan stimulus ekonomi yang besar, di antaranya stimulus fiskal, berupa kenaikan anggaran kesehatan, bantuan rumah tangga, pekerja dan jaring pengaman sosial, serta program pemulihan ekonomi; dan stimulus moneter dan keuangan berupa penurunan suku bunga, quantitative easing, penundaan dan pelonggaran pembayaran kredit, program restrukturisasi kredit dan dunia usaha, serta pemberian fasilitas pembiayaan,” ucap Perry Warjiyo.

Lanjut Perry, seluruh instrumen bauran kebijakan Bank Indonesia untuk mitigasi Covid-19 diarahkan untuk mendukung proses pemulihan ekonomi Nasional baik dari sisi memperkuat stabilitas, seperti kurs rupiah, kecukupan cadangan devisa, defisit transaksi berjalan, surveilance sistemik dan ketahanan,  maupun dalam turut mendorong pulihnya aktivitas dan pertumbuhan ekonomi,  seperti suku bunga, quantitative easing, Giro Wajib Minimum (GWM), relaksasi makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Jumlah cadangan devisa Indonesia saat ini lebih dari cukup untuk kebutuhan impor, pembayaran utang pemerintah, dan stabilisasi rupiah. Dalam hal diperlukan sebagai ‘second line of defence’, Bank Indonesia mempunyai kerjasama bilateral swap dengan berbagai bank Sentral, yakni Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah menguat dari Rp16.200 per 8 April 2020 sekarang menjadi Rp14.095 per Juni 2020, aliran modal asing portofolio ke Surat Berharga Negara (SBN) kembali masuk sejak 14 April 2020 berjumlah Rp15,4 triliun hingga 3 Juni 2020, cadangan devisa meningkat dari USD120,4 miliar akhir Maret 2020 menjadi sekitar USD130 miliar dewasa ini, dan kerjasama repo-line dengan fed AS sebesar USD60 miliar telah siap apabila sewaktu-waktu diperlukan.

Dalam memasuki era new normal, Indonesia bisa memanfaatkan ekonomi dan keuangan berbasis digital. UMKM dan ekonomi halal perlu menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi ke depan. Ekonomi Nasional lebih tahan dari gejolak global dengan penciptaan kerja besar dan inklusif. Perlu kebijakan afirmatif melalui pemberdayaan, korporatisasi, dan pembiayaan yang diatur dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025.

Blueprint SPI 2025 mempunyai 5 visi, (1) mendukung integrasi ekonomi-keuangan digital Nasional, (2) mendukung digitalisasi perbankan, (3) interlink antara fintech dengan perbankan, (4) menjamin keseimbangan antara inovasi dengan consumers protection, (5) menjamin kepentingan Nasional dalam ekonomi-keuangan digital antar negara. Semua ini, membutuhkan dukungan dan kolaborasi dengan industri dan regulator (pemerintah, OJK, perbankan, fintech, e-commerce) untuk menciptakan digitalisasi sistem pembayaran demi integrasi ekonomi keuangan digital Nasional.

“Untuk mencapai keberhasilan new normal ini ada 3 kunci utama, yaitu be strong, artinya kita harus lebih bertahan dan kuat, dengan memanfaatkan sumber daya dari dalam Negeri, be creative, artinya kita harus menciptakan suatu perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, dan  be prepared for new civilization, artinya kita harus siap memasuki serba digital,” imbuh Perry.

Ke depan, tambah Perry, Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika dan pasar keuangan global serta penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, dan mengambil langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan secara terkoordinasi erat dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta pemulihan ekonomi Nasional.

“Diharapkan, bagi mahasiswa MM FEB UI, setelah lulus dari sini harus mempunyai cita-cita untuk menciptakan usaha-usaha yang begitu banyak agar bisa berkontribusi terhadap perekonomian bangsa ini,” pesan Perry di akhir pemaparan presentasinya. (hjtp)