Ari Kuncoro di Webinar IAEI, Sharia Business and Academic Synergy: Grand Strategy Pengembangan SDM Ekonomi Islam Berbasis Link and Match

0

Ari Kuncoro di Webinar IAEI, Sharia Business and Academic Synergy: Grand Strategy Pengembangan SDM Ekonomi Islam Berbasis Link and Match

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (29/12/2020) Ekonomi Islam saat ini telah berkembang pesat dalam bentuk lembaga perbankan dan keuangan Islam, keuangan sosial dan industri halal. Namun masih terdapat banyak ruang harapan dan optimisme besar terhadap tumbuh kembangnya sistem ekonomi dan keuangan Islam yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada kemajuan ekonomi dan sistem keuangan secara umum di Indonesia. Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) menggelar Sharia Business and Academic Synergy (SBAS) bertajuk “Grand Strategy Pengembangan SDM Ekonomi Islam Berbasis Link and Match Solusi SDM Unggul, Indonesia Maju”, pada Selasa, (29/12/2020) secara virtual.

Ketua IAEI sekaligus Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati dalam keynote speech, menuturkan “Pengembangan ekonomi syariah Indonesia punya potensi besar, sehingga butuh jaringan kerja sama, baik dari lingkungan akademis hingga praktisi untuk membuat rumusan program yang berdampak signifikan bagi penciptaan atmosfir ekosistem ekonomi Syariah yang maju. Selain karena mayoritas penduduknya Muslim, saat ini adanya kenaikan kelas menengah juga berpengaruh pada pertumbuhan permintaan dari pelayanan Syariah. Prinsip dalam keuangan Syariah bersifat universal karena berasal dari prinsip keadilan, kejujuran, integritas dan amanah. Ini sangat identik dengan kebutuhan masyarakat pada sistem keuangan.”

Sesi Panel 1: Kebijakan Pengembangan SDM, Model Pendidikan Ekonomi Islam di Perguruan Tinggi dan Sistem Penjaminan Mutu (Quality Assurance)

Dalam paparannya, Profesor Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, menyampaikan mengenai ‘Pengembangan SDM Ekonomi Islam di Perguruan Tinggi’. Pada dasarnya,  pendidikan tinggi di tengah disrupsi mengalami perubahan, yaitu disrupsi sosial (struktur sosial, ekonomi, perubahan demografi), disrupsi teknologi (komunikasi dan informasi, digitalisasi dan kecerdasan buatan, otomasi dan robotik, 3D printing), dan disrupsi industri (interkoneksi, transparansi informasi, dukungan teknologi, desentralisasi pembuatan keputusan).

Disrupsi tersebut berdampak pada 3 tuntutan, yakni lifeskills berupa pemikiran tingkat tinggi dan pemecahan masalah yang kompleks, keterampilan sosial, berpikir kritis, kemampuan kognitif, 4 literasi (dasar, data, teknologi, manusia). Kedua, Organisasional berupa adaptif, fleksibel, gesit, otonomi. Ketiga, excellence berupa persaingan global, ranking, dan pendidikan sebagai komoditas jasa.

Sementara, pengembangan SDM Ekonomi Islam di perguruan tinggi berdasarkan sumber Islamic Finance Lab, UNDP, dikatakan 82% negara mengalami kekurangan talenta di area-area Islamic  Financial Services Industry (IFSI), dan 60% profesional keuangan Syariah membutuhkan pelatihan dan  pengembangan keterampilan lanjutan. Hal ini disebakan oleh kurangnya tenaga pengajar, ketersediaan referensi (buku atau sebagainya), kurikulum yang tidak terstandar, terbatasnya institusi formal dan  informal, kebutuhan akan akreditasi internasional, kurangnya kerja sama lembaga pendidikan dan  industri.

Selain itu, World Islamic Economic Forum Foundation, menjawab isu kelangkaan talenta Ekonomi Islam, di antaranya internship, industry advisory  board, co-teaching, industry based academic project, consulting work, professional association, accreditation, sabbatical.

Di sisi lain, tantangan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengembangkan SDM Ekonomi Islam, dengan menyesuaikan kurikulum atau mata kuliah sesuai era disrupsi. Menurut Ari, model mata kuliah untuk menjawab tantangan tersebut terbagi dalam 2 golongan, pertama mata kuliah wajib program studi (ushul fiqh, fiqh muamalah, fiqh riba dan gharar, filosofi, etika dan tasawwuf ekonomi Islam, pengantar keuangan dan perbankan Islam, sejarah peradaban dan pemikiran ekonomi Islam, makro dan mikroekonomi Islam, sejarah dan sistem ekonomi Indonesia, ekonomi keuangan Islam, ekonomi dan keuangan publik Islam, ekonomi pembangunan Islam, ekonomi moneter Islam, data science, seminar ekonomi Islam, metode penelitian ekonomi Islam, pengantar ekonometrika, ekonometrika CSPD/ekonometrika time series).

Kedua, mata kuliah pilihan (ekonomi zakat, wakaf, dan industri halal, sistem ekonomi Islam, keuangan mikro Islam, akuntansi Islam, manajemen perbankan Islam, pasar modal Islam, manajemen keuangan Islam, kewirausahaan Islam, bisnis global islam, manajemen organisasi filantropi Islam, takaful dan retakaful).

“Ke depannya, untuk mengembangan SDM Ekonomi Islam di perguruan tinggi perlu adanya dukungan dan kerjasama universitas dan industri dalam link and match kebutuhan universitas dan industri, program sabatikal, magang, penelitian dan pengabdian masyarakat, menciptakan program-program peningkatan kualitas SDM ekonomi dan keuangan Islam untuk menjawab tantangan industri,” demikian Ari menutup sesi pemaparannya. (hjtp)