MEKK FEB UI bersama Visiting Professor Nanyang Technological University Seri-2: Introduction to Experimental Economics

0

MEKK FEB UI bersama Visiting Professor Nanyang Technological University

Seri-2: Introduction to Experimental Economics

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (24/4/2021) Prof. Yohanes Eko Riyanto (Nanyang Technological University, Singapura) menjadi pemateri dalam rangkaian acara Visiting Professor oleh Magister Ekonomi Kependudukan dan Ketenagakerjaan (MEKK) FEB UI. Seri kedua mengusung topik “Introduction to Experimental Economics” pada Sabtu (24/4).

Yohanes menyampaikan, “Ekonomi eksperimental adalah bidang ekonomi yang bertujuan untuk menciptakan sebuah lingkungan—dalam kondisi terkendali—menyerupai lingkungan ekonomi sebenarnya berdasarkan landasan teori. Pendekatan ini telah menjadi pandangan yang berkembang pesat.

Sederhananya, ekonomi eksperimental merupakan ilmu ekonomi yang menerapkan berbagai metode percobaan dalam mengkaji berbagai permasalahan ekonomi. Menurut Smith (1987), teori yang belum teruji hanyalah hipotesis yang berasal dari pengetahuan diri kita. Ilmu berusaha untuk memperluas pengetahuan kita tentang berbagai hal dengan mengujinya (pengujian empiris).

Kemudian, Yohanes memaparkan sebuah ekonomi eksperimental mengenai produktivitas kerja dengan variabel y1, hasil dengan perlakuan (produktivitas dengan adanya peningkatan upah) dan y0, hasil tanpa perlakuan (produktivitas tanpa adanya peningkatan upah).

Solusinya dapat menggunakan percobaan terkontrol dan percobaan alami. Percobaan terkontrol berarti membandingkan perolehan hasil dari treated sample (sampel yang menerima perlakuan) dan untreated sample (sampel yang tidak menerima perlakuan) yang identik, kecuali aspek yang sedang dalam penyelidikan. Percobaan alami berarti menganggap perlakuan itu sendiri sebagai sebuah percobaan, menemukan kelompok pembanding yang terjadi secara alami untuk meniru kontrol. Saat seleksi perlakuan menjadi masalah, dapat beralih menggunakan metode propensity score matching (PSM) yang mengubah data non-eksperimental menjadi sesuatu seperti data eksperimental.

Roth dalam Frechette dan Schotter (2015) menuliskan bahwa percobaan terkontrol bertujuan menguji ruang lingkup empiris dan isi teori (misalnya, model preferensi sosial, teori lelang dan kontes, dan keseimbangan pasar), mencari fakta dengan menjelajahi keteraturan empiris tanpa prediksi teoritis, dan memberikan nasihat terpercaya bagi para pembuat kebijakan.

“Dalam ekonomi eksperimental perlu memenuhi beberapa elemen dasar, mulai dari menjelaskan biaya dan sumbangan dari subjek dan institusi yang mendasari eksperimen, menentukan prosedur dalam petunjuk, memastikan subjek memiliki pengetahuan publik, memutuskan banyaknya informasi untuk subjek, merancang variasi perlakuan, mengacak subjek ke dalam perlakuan untuk menghilangkan bias seleksi, mengontrol faktor perancu, memiliki satu faktor bervariasi saat membandingkan dua perlakuan, memahami jenis desain percobaan, menghindari aspek yang mungkin mengganggu, hingga menyiapkan izin etis untuk studi yang melibatkan subjek manusia,” jelasnya.

     

Jenis desain percobaan terbagi menjadi desain antar-subjek (between-subject design) dan desain dalam subjek (within-subject design). Desain antar-subjek adalah subjek berbeda mengamati dalam perlakuan berbeda. Dengan demikian, subjek hanya berpartisipasi dalam sekali perlakuan. Satu kelompok subjek akan berfungsi sebagai kelompok kontrol. Kelebihannya, menghindari efek limpahan perilaku dan efek keteraturan. Kekurangannya, membutuhkan banyak subjek.

Sementara desain dalam subjek adalah subjek tunggal mengamati dalam perlakuan berbeda. Dengan demikian, subjek berpartisipasi dalam perlakuan berbeda. Satu sub-kelompok subjek akan berfungsi sebagai kelompok kontrol. Kelebihannya, membutuhkan lebih sedikit subjek (hemat biaya). Kekurangannya, memunculkan pengaruh perilaku dan keteraturan.

Saat menjalankan percobaan, tentu perlu menghindari beberapa hal. Pertama, hindari penipuan terhadap subjek, dalam eksperimen ekonomi ini merupakan tabu, meski dalam eksperimen psikologi boleh saja. Akibatnya, menghilangkan reputasi di antara subjek, menimbulkan perilaku berbeda saat subjek curiga, dan menutup kesempatan untuk publikasi di bidang ekonomi.

Kedua, hindari membuka identitas subjek. Anonimitas penting dalam percobaan ekonomi, izinkan subjek menarik diri dari percobaan apabila merasa tidak nyaman. Boleh melonggarkan anonimitas jika subjek termasuk bagian dari desain. Desain bisa terdiri dari single-blind design (tidak ada subjek lain—kecuali peneliti—yang mengetahui tindakan dan hasil subjek) atau double-blind design (tidak ada subjek lain—bahkan peneliti—yang dapat menghubungkan keputusan subjek dengan identitas subjek). Hal ini lebih baik karena dapat menghilangkan pengaruh tekanan psikologis pada keputusan mereka.

Ketiga, hindari gangguan, terapkan beberapa aturan untuk mengurangi adanya gangguan, seperti melarang di antara subjek atau antara subjek dan peneliti untuk berkomunikasi di depan umum atau penggunaan telepon genggam selama percobaan.

Mengakhiri paparannya, Yohanes mengingatkan pentingnya mempertimbangkan masalah lain, “Perlu adanya validitas eksternal karena pengambil keputusan di dunia nyata lebih canggih daripada subjek di ruang pengujian. Selain itu, lingkungan di dunia nyata membuat keputusan lebih kompleks daripada lingkungan buatan di ruang pengujian. Maka percobaan sebaiknya menanamkan beberapa derajat realisme dalam desain eksperimental. Lalu, perlu adanya replikasi dengan prosedur, metode, instruksi, dan lingkungan yang jelas terstandarisasi.”