GNAM Week Day 2: Hadirkan Pembahasan Menarik bersama Pendiri Arwana Citramulia dan Riau Andalan Pulp Paper

0

GNAM Week Day 2: Hadirkan Pembahasan Menarik bersama Pendiri Arwana Citramulia dan Riau Andalan Pulp Paper

 

Audry Dwithabakti dan Jeral Putra Respati ~ Mahasiswa MM FEB UI

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (15/3/2022) Hari kedua Global Network Week atau Global Network for Advanced Management (GNAM) yang bertemakan “Nurturing Green Growth to Reinforce Resilience and Sustainable Recovery” diisi dengan dua sesi menarik dari berbagai latar belakang pembicara, tentang peningkatan nilai, pertumbuhan, dan penerapan prinsip 3P (People, Profit, Planet) pada perusahaan guna mendukung keberlanjutan lingkungan, Selasa (15/3).

Ketua Program Studi Magister Manajemen (MM) FEB UI, Prof. Rofikoh Rokhim, Ph.D., dalam sambutannya, menyebutkan pandemi Covid-19 mempengaruhi lingkungan dan pentingnya peran perusahaan untuk mendukung green growth.

Session 1: Enhancing Firm Value and Growth through Environmental Initiatives and Practices

Meningkatkan nilai dan pertumbuhan perusahaan dengan memerhatikan keberlanjutan lingkungan memiliki peranan sangat penting untuk pemulihan akibat pandemi Covid-19. Pada sesi pertama, diisi oleh CEO PT. Arwana Citramulia Tbk, Tandean Rustandy, MBA, dengan moderator Guru Besar FEB UI, Prof. Ruslan Prijadi, Ph.D.

Tandean Rustandy memaparkan bahwa adanya lima strategic growth yang dipegang teguh oleh Arwana Citramulia sejak 29 tahun yang lalu dan tidak akan berubah. Kelima strategi tersebut terdiri dari environment, energi, teknologi, produk, dan human resource.

Environment merupakan strategi yang penting karena bahan-bahan dan material yang digunakan dalam proses produksi Arwana Citramulia berasal dari bumi. Untuk menjadi nomor satu perusahaan keramik di Indonesia bukan seberapa besar perusahaan yang dibangun atau berapa uang yang dihasilkan, tapi tentang bagaimana melestarikan lingkungan.

Salah satu penghargaan yang dimenangkan Arwana Citramulia ialah Green Industry Award selama 10 tahun. Tandean mengaku tidak ada perusahaan dalam industri material bangunan yang memenangkan award tersebut di ASEAN selain Arwana Citramulia. “Dibutuhkan keinginan yang kuat untuk membuat bumi lebih baik sehingga Arwana Citramulia bisa mendapatkan recognition dalam green industry, karena biaya untuk melakukan green industry cukup tinggi. Beberapa inisiatif yang dilakukan Arwana Citramulia berupa penanaman pohon, edukasi tentang lingkungan kepada anak-anak di Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Utara,” tambah Tandean.

Dari segi energi, biaya untuk energi memakan proporsi cukup besar sebesar 30 persen dari biaya produksi. Tandean menekankan bagaimana perusahaan bisa menggunakan energi secara efisien agar bisa menjaga lingkungan, membuat dan menjual produk yang lebih baik. Beberapa inisiatif yang dilakukan perusahaan dengan menggunakan Heat Recovery, yaitu penggunaan kembali sisa energi panas untuk proses produksi yang membutuhkan temperatur lebih rendah. Selain itu, tingkat konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca Arwana Citramulia bahkan berada di bawah standar green industry. Arwana Citramulia juga berinvestasi pada panel surya untuk mengurangi penggunaan energi listrik yang disuplai oleh PLN.

Kemudian, dari segi teknologi, perusahaan berinvestasi pada mesin dan teknologi yang canggih dan user-friendly agar dapat meningkatkan volume produksi supaya bersaing dengan kompetitor. Selanjutnya, segi human resource, Arwana Citramulia menghormati tenaga kerja untuk mewujudkan visi ketiga yaitu memberikan kontribusi yang berarti. Beberapa inisiatif untuk masyarakat dengan memberikan beasiswa bagi pelajar, makanan selama pandemi, obat-obatan, dan lainnya. Apabila komunitas sehat dan pintar, maka akan ada tenaga kerja yang berkualitas guna mendukung bisnis. Untuk pekerja pabrik, diadakan tes swab secara rutin per minggu, membuat lingkungan pabrik yang nyaman dengan adanya cafe, lingkungan hijau, outdoor space.

Dengan semua inisiatif yang dilakukan perusahaan dalam lima growth strategy terbukti bahwa penjualan dan net profit perusahaan selalu meningkat dari tahun ke tahun, bahkan di saat krisis sekalipun. “Mempertahankan sustainability merupakan sesuatu yang sulit dan memakan biaya besar, namun perusahaan tetap harus menghormati orang-orang di dalamnya dan memastikan setiap individu di dalam tim mengerti konsep yang diinginkan perusahaan. Nilai institusional yang dipegang perusahaan untuk merepresentasikan negara, memaksimalkan kekayaan sumber daya negara Indonesia. Hal ini dilakukan dengan memiliki hati untuk melayani, dan berkontribusi untuk negara,” tegas Tandean diakhir pemaparannya.

Session 2: The Implementation of The Triple P Principes (People, Profit, Planet) in Pursuing Business Growth and Sustainability Development

Dalam sesi terakhir di hari kedua, Dr. Yasmine Nasution, Dosen Departemen Manajemen FEB UI menjadi moderator pada sesi dengan pembicara Sihol Aritonang, MBA, CEO PT. Riau Andalan Pulp Paper (RAPP).

Sihol Aritonang menjelaskan bahwa PT. RAPP merupakan perusahaan yang menghasilkan berbagai produk pulp dan paper, namun produk utamanya ialah kertas cetak dan kertas fotokopi yang dinamakan Paperone. Bahan dasar dari kertas disebut pulp dan pulp berasal dari kayu. Kayu dari perusahaan ini berasal dari sustainable industrial forest sehingga kayu yang digunakan bukan berasal dari hutan alam.  PT. RAPP juga dapat menghasilkan pulp dalam jumlah besar sebesar 2.800.000 ton pulp per tahun dan menghasilkan kertas dengan jumlah 1.150.000 ton per tahun. Pabrik perusahaan ini pun berlokasi di Provinsi Riau. Paperone diekspor ke lebih dari 75 negara.

Menurut Sihol, PT. RAPP merupakan anak perusahaan dari Asia Pacific Resources International (APRIL) dan meluncurkan APRIL 2030 sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap sustainability yang akan dilaksanakan hingga 2030. Ada empat pilar utama yang menjadi fokus APRIL 2030, yakni climate positive, thriving landscape, inclusive progress, dan sustainable growth.

Pertama, climate positive berkomitmen untuk mengurangi net emissions dan memiliki target 90 persen energi yang dihasilkan pabrik lebih bersih dan dapat diperbaharui. Kedua, thriving landscape untuk konservasi dan restorasi, targetnya untuk mencapai positive biodiversity gain serta menjaga habitat margasatwa. Ketiga, inclusive progress untuk mengurangi tingkat ketidakmampuan yang akut dalam radius 50 kilometer dari tempat pabrik beroperasi dan mengurangi tingkat kekurangan gizi sebesar 50 persen untuk anak dibawah 5 tahun. Keempat, sustainable growth untuk membuat pabrik lebih bersih, meningkatkan efisiensi dengan mengurangi pemakaian air serta menggunakan bahan yang dapat diperbaharui sehingga mengurangi polusi secara signifikan.

“Sustainability merupakan suatu area yang dapat membuat Anda berkembang. Dunia akan semakin berubah, permintaan serta ekspektasi untuk sebuah bisnis dalam melakukan sustainability atau green business akan selalu meningkat dan bidang ini dapat dipertimbangkan sebagai jalur karier Anda. Anda tidak bisa menghindari sustainability karena area yang berkembang melibatkan kreativitas, logika dan juga komitmen,” ujar Sihol dipengujung presentasi.