Semangat Menggapai Malam Lailatulkadar Jadi Tema Pertemuan Departemen Manajemen FEB UI untuk Bahas Perkembangan Kurikulum, Tausiyah, dan Buka Puasa Bersama

Semangat Menggapai Malam Lailatulkadar Jadi Tema Pertemuan Departemen Manajemen FEB UI untuk Bahas Perkembangan Kurikulum, Tausiyah, dan Buka Puasa Bersama

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (4/4/2024) Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan kurikulum, tausiyah, dan buka puasa bersama di Auditorium Mini, Departemen Manajemen FEB UI, pada Kamis (4/4).

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Departemen Manajemen FEB UI Prof. Dr. Irwan Adi Ekaputra. Dilanjutkan dengan penyampaian perkembangan kurikulum Departemen Manajemen FEB UI dari masing-masing program studi (prodi), diawali dari prodi S-1 Manajemen yang disampaikan oleh Imam Salehudin, Ph.D. (Ketua Program Studi S-1 Manajemen); prodi S-1 Bisnis Islam yang disampaikan oleh Nur Dhani Hendranastiti, Ph.D. (Ketua Program Studi S-1 Bisnis Islam); prodi Magister Manajemen yang disampaikan oleh Arviansyah, Ph.D. (Sekretaris Program Studi Magister Manajemen); dan prodi S-2 & S-3 Pascasarjana Ilmu Manajemen yang disampaikan oleh Zaafri Ananto Husodo, Ph.D. (Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Manajemen).

Penceramah Ustaz Slamet memberikan tausiyah, bertajuk “Semangat Menggapai Malam Lailatulkadar”. Ustaz Slamet menyampaikan bahwa Lailatulkadar merupakan malam yang mulia lebih baik dari seribu bulan karena terjadinya peristiwa turunnya Al-Qur’an. Selain itu, sebagai suatu keistimewaan karunia Allah SWT yang berikan hanya bagi umat Islam dan tidak diberikan pada umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Qadr Ayat 1–5, yang artinya (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar; (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?; (3) Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan; (4) Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan; (5) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

“Malam yang mulia lebih baik dari seribu bulan (Lailatulkadar) bila dihitung setara dengan 83 tahun 4 bulan. Ketika kita beribadah kepada Allah SWT pada malam lailatulkadar & kita memperoleh malam mulia tersebut, maka Allah SWT berikan balasan seperti kita melakukan ibadah selama seribu bulan lamanya,” ujar Ustaz Slamet.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada umatnya ‘Adakah di antara kita yang umurnya mencapai 83 tahun? Nabi pun menjawab ada, tetapi hanya sedikit’. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya: Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu. (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Lanjut Ustaz Slamet, dipengujung Ramadan tahun ini, mari kita bersama-sama untuk berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ramadan ini jangan sampai berlalu tanpa kita mendapatkan kadar malam lailatulkadar. Belum tentu ramadan yang akan datang, kita akan bertemu kembali. Oleh karena itu, patut kita bersyukur pada ramadan tahun ini dengan meningkatkan nilai ibadah kepada Allah SWT, sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW melalui cara beritikaf di masjid selama 10 hari terakhir ramadan. Tak hanya itu, bisa juga dengan mencari malam lailatulkadar di malam-malam ganjil, seperti 21, 23, 25, 27, dan 29.

“Mudah-mudahan dipengujung Ramadan ini, Allah SWT berikan karunia dan pertolongan kepada kita agar giat dalam beribadah. Semoga Allah SWT takdirkan kita bertemu dengan malam lailatulkadar agar dianggap oleh Allah SWT sudah melakukan ibadah sebanyak 83 tahun 4 bulan (seribu bulan). Hal ini bisa menyaingi atau melebihi kualitas & kuantitas ibadah-ibadah orang terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW,” pesan Ustaz Slamet di akhir tausiyah.