JGTC ke-48 Kembali Hidupkan Tradisi Musik Kampus dan Perkuat Legacy FEB UI

JGTC ke-48 Kembali Hidupkan Tradisi Musik Kampus dan Perkuat Legacy FEB UI

 

Haniifah – Komunikasi FEB UI

Depok, 9 November 2025 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) kembali menyelenggarakan Jazz Goes to Campus (JGTC) ke-48, sebuah festival musik tahunan yang telah menjadi salah satu legacy paling ikonik yang lahir dari mahasiswa FEB UI. Berlangsung di lingkungan Kampus UI Depok, festival ini kembali menarik ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, mempertegas posisinya sebagai festival jazz kampus tertua dan terbesar di Indonesia.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FEB UI, Kiki Verico, Ph.D. menyampaikan apresiasi terhadap keberlanjutan JGTC yang telah berlangsung hampir lima dekade, “Adalah sebuah kebanggaan bagi FEB UI karena JGTC bisa terus ada dari tahun ke tahun. Dimulai dari pertama kali digagas oleh Mas Candra Darusman hingga tahun ini Annual Event of JGTC sudah 48 kali berlangsung,” ujar Kiki Verico.

Beliau menambahkan, keberlangsungan festival ini menunjukkan ketangguhan para mahasiswa dan organisasi pelaksana dari generasi ke generasi. “Di tengah tantangan ekonomi yang tidak mudah, JGTC tetap bisa diselenggarakan. Ini menjadi bukti bahwa agility, adaptiveness, dan persistensi Project Officer (PO) serta para mahasiswa yang terlibat, bersama dukungan FEB UI dari tahun ke tahun, adalah bentuk kolaborasi yang apik. Tahun berganti dan JGTC selalu menghadirkan standar baru bagi PO penerusnya. Kita juga sangat excited menuju Golden Jubilee JGTC ke-50. Semoga semua lancar,” tambahnya.

Tahun ini, JGTC menghadirkan lima panggung utama, Balé Stage, Makara Stage, Pertamina Stage, OPPO Stage, dan Jazzpark by Nescafé, yang menampilkan musisi lintas generasi sejak siang hingga malam hari. Festival dibuka pada pukul 13.00 WIB dan langsung disambut dengan penampilan Juzzer di Balé Stage, menandai dimulainya rangkaian pertunjukan musik yang berlangsung sepanjang hari.

Selain konser musik, JGTC ke-48 juga menghadirkan JGTC Museum, sebuah pameran yang menampilkan perjalanan panjang festival sejak pertama kali digelar pada 1976. Melalui foto-foto arsip, dokumentasi panggung legendaris, dan artefak sejarah lainnya, pengunjung dapat melihat bagaimana JGTC tumbuh menjadi festival musik kampus terbesar di Indonesia. Pameran ini menjadi ruang refleksi mengenai peran mahasiswa FEB UI dalam menjaga keberlanjutan tradisi budaya dan kreativitas di lingkungan kampus.

Sepanjang sore, setiap panggung menghadirkan warna musik yang beragam. Pertamina Stage membuka deretan penampil dengan Blue Matter Trio, diikuti Enigma di OPPO Stage dan Blue Tone di Jazzpark. Balé Stage turut meriah dengan penampilan Alika Shafira, sementara Makara Stage menghadirkan Rechtovibe yang menarik perhatian banyak pengunjung.

Salah satu momen khas JGTC terjadi di Balé Stage melalui Tribute to Stevie Wonder oleh Barry Likumahuwa bersama BLP x Raam. Penampilan ini menjadi bentuk penghormatan bagi legenda musik dunia, sekaligus menunjukkan kualitas kurasi musik yang konsisten dijaga oleh mahasiswa FEB UI. Kolaborasi Candra Darusman, Nilla Orange, dan Tompi menambah kekuatan program sore hari yang penuh sentuhan jazz klasik.

Di panggung lain, musisi-musisi muda seperti Lomba Sihir, Wiyaja 80, dan Adikara turut memberikan warna baru, memperlihatkan bahwa JGTC berhasil menjadi ruang pertemuan antara musisi mapan dan talenta generasi berikutnya.

Memasuki malam hari, festival mencapai puncak keramaian dengan penampilan artis-artis besar nasional. Raisa mengisi Makara Stage dengan antusiasme penonton yang sangat tinggi, disusul Sezairi di OPPO Stage. Balé Stage kembali menjadi pusat perhatian melalui penampilan Barasuara, dan kemudian Maliq & D’Essentials, dua grup musik yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan festival ini.

Tahun ini, salah satu penampilan yang paling dinantikan adalah Tulus, yang tampil di Makara Stage pada pukul 21.00 WIB. Kehadirannya menjadi penutup megah dari JGTC ke-48, menyempurnakan rangkaian festival yang disusun secara profesional oleh panitia mahasiswa FEB UI.

Sebagai kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung selama hampir lima dekade, JGTC bukan hanya agenda tahunan, tetapi simbol dedikasi, kreativitas, dan kemampuan organisasi mahasiswa FEB UI. Melalui festival dan pameran yang diselenggarakan tahun ini, JGTC kembali menunjukkan kontribusi nyata FEB UI dalam memperkaya ranah seni dan budaya Indonesia.