Bahas Tantangan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia, Kiki Verico dan Elwin Tobing Berikan Solusi Middle Income Trap
Rayya – Komunikasi FEB UI
Depok, 20 Mei 2026 – Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia bersama Universitas Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Middle-Income Trap dan Tantangan Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia” sebagai langkah lanjutan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Percepatan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Sidang Kampus UI Depok, pada Rabu (20/5).
Seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta dari kementerian/lembaga dan perguruan tinggi ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni Universitas Indonesia, Prof. Dr. Hamdi Mulu, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyinggung mengenai stagnansi yang terjadi di Indonesia. “Kita akan bedah bagaimana cara mengatasi middle trap yang merupakan isu yang sudah lama, jadi saya harap setelah selesai dari sini kita ketemu dengan solusinya,” ujar Prof. Hamdi .
Kegiatan selanjutnya dibuka secara resmi oleh Sugeng Bahagijo selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini merupakan momentum yang sangat bermakna dalam merumuskan solusi menuju Indonesia yang lebih sejahtera. “Seminar Nasional hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia dengan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia adalah upaya nyata dalam menutup celah-celah yang terjadi di antara masyarakat Indonesia sehingga mampu menggapai cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Bersamaan dengan hal tersebut, Prof. Elwin Tobing, Ph.D., seorang Professor Ekonomi California State University yang merupakan salah satu pemateri pada seminar nasional ini, mengupas salah satu bukunya yang bertajuk “Now or Never” yang membahas transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Ia menekankan kepada seluruh peserta yang hadir agar tidak salah dalam mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan. “Jika kita salah mengambil keputusan, maka ke depannya anak cucu kita akan sengsara. Bangsa ini mesti berhenti dulu, refleksi dulu, cari tahu masalah fundamentalnya apa, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama,” jelas Prof. Elwin.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat dan menguji mengapa berbagai persoalan tersebut dapat terjadi serta apa yang dapat dilakukan dan dipelajari oleh para peserta seminar nasional yang hadir. Ia juga membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam berdasarkan data tahun 1980–2023 terkait investasi, adopsi teknologi, dan inovasi di negara-negara tersebut. Selain itu, ia menekankan pentingnya mengatasi Middle Income Trap (MIT) guna meningkatkan kapabilitas Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai penutup sesi pemaparannya, Prof. Elwin Tobing juga memberikan sejumlah solusi untuk meningkatkan kapabilitas Indonesia, di antaranya mempertahankan investasi yang stabil dan berjangka panjang, meningkatkan investasi secara bertahap dari waktu ke waktu, serta melakukan investasi besar-besaran pada awal transformasi. “Kita sebenarnya punya uang, tapi kita masih belum paham fundamental mana yang menjadi prioritas, makanya kita muter-muter di kesalahan yang sama,” ucapnya.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh Kiki Verico, S.E., M.R.I., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan Indonesia dalam global production network guna meningkatkan daya saing industri nasional. Menurutnya, negara yang tidak terlibat dalam jaringan produksi global harus memiliki kapasitas inovasi dan riset yang sangat kuat agar mampu bertahan secara mandiri. “Kita harus terlibat dalam global production network. Ada tidak sih negara yang tidak terlibat dalam global production network tapi dia bisa mandiri? Ada, tapi inovasi dan research-nya harus kuat,” ungkapnya. Ia juga membandingkan posisi Indonesia dan Vietnam berdasarkan data keterhubungan industri global, di mana Indonesia memiliki forward linkage yang tinggi, sementara Vietnam lebih kuat pada backward linkage sebagai basis produksi manufaktur global.
Dalam pemaparannya, Kiki Verico juga menyoroti rendahnya tingkat riset dan pengembangan (R&D) di sektor manufaktur Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan, dari sekitar 30 ribu industri manufaktur menengah dan besar di Indonesia sebelum pandemi, hanya sekitar tiga persen yang melakukan R&D dan sekitar lima persen yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan inovasi dan teknologi masih menjadi tantangan besar bagi industri nasional. Ia menegaskan bahwa investasi tidak hanya harus menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mendorong keterlibatan dalam proses produksi dan inovasi industri. “Ekonomi itu sebetulnya dimulai dari memberikan pekerjaan. Setelah pekerjaan dapat, ekonominya tumbuh,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiki Verico menjelaskan bahwa sektor manufaktur memiliki peran penting dalam menciptakan aktivitas ekonomi formal yang berkelanjutan. Ia mengibaratkan pertumbuhan ekonomi seperti konsep pace dalam olahraga lari, di mana efisiensi menjadi faktor utama dalam meningkatkan kecepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) agar investasi yang masuk dapat menghasilkan output ekonomi yang lebih besar dan efisien.
Sebagai penutup, Kiki Verico menekankan bahwa kualitas regulasi dan institutional quality menjadi fondasi penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa hukum, politik, ekonomi, engineering, dan sains merupakan elemen yang saling berkaitan dalam menciptakan kemajuan sebuah negara. “Hukum adalah produk politik, politik jantungnya ekonomi, ekonomi bergerak karena engineering, engineering bergerak karena sains,” pungkasnya.

