Ari Kuncoro : Usaha Rintisan

Ari Kuncoro : Usaha Rintisan

Usaha rintisan masih terus berkembang, kendati mulai mencari bentuk. Ada yang sukses, ada yang gagal. Hal yang tak boleh dilupakan adalah perlindungan konsumen tetap harus diutamakan.

Usaha rintisan atauĀ start-upĀ sudah ada kurang lebih 10 tahun di Indonesia. Ada yang berhasil, akan tetapi lebih banyak lagi yang gagal. Kemajuan teknologi informasi membuka kemungkinan mereorganisasi kegiatan-kegiatan ekonomi menjadi sesuatu yang baru. Gojek, misalnya, adalah platformĀ clearing houseĀ yang dimulai dari mempertemukan sisi penawaran ojek sektor informal ke sisi permintaan, yaitu masyarakat, yang membutuhkan transportasi jarak dekat.

Masuk dan keluar suatu unit usaha ke dalam industri adalah hal yang lumrah, sebagai bagian dari proses yang oleh Schumpeter (1942) disebut sebagaiĀ creative destruction. Unit-unit usaha baru akan membawa ide, teknologi, dan manajemen yang baru sehingga industri mengalami revitalisasi agar tidak lapuk ditelan zaman.

Dalam konteks yang lebih umum, proses ini adalah pergantian metode produksi dari yang lama ke yang baru. Usaha rintisan yang sering dikaitkan dengan industri 4.0 sebenarnya pengulangan dari penemuan mesin uap pada 1750 (industri 1.0) dan penggunaan teknologi untuk industri mulai 1870 (Industri 2.0) yang berujung pada produksi massal menggunakanĀ assembly lineĀ ala Henry Ford, yang semula merupakanĀ start upĀ untuk mobil. Penemuan semi konduktor dan otomatisasi industri yang bermuara pada pengembangan teknologi informasi, penemuan internet, dan digitalisasi industri, merupakan gelombang ketiga (industri 3.0). Industri 4.0 merupakan konsekuensi dari keberadaan industri 3.0 yang memungkinkan reorganisasi metode produksi, dengan teknologi informasi sebagai platform.

Tingkat keberhasilan
Yang sering dilupakan, di balik setiap keberhasilan usaha rintisan, ada puluhan bahkan ratusan lain yang gagal. Hal ini adalah fenomena hukum bilangan besar (Law of Large Number), yakni untuk menghasilkan segelintir yang sukses diperlukan sejumlah pemain lain yang menjadi inkubator. Kondisi ini sangat mirip dengan kasus persepakbolaan, yaitu untuk menghasilkan satu Lionel Messi dari kesebelasan Barcelona, diperlukan 99 pemain lain sebagai mitra latih/tanding untuk membentuknya sebagai mahabintang. Tingkat keberhasilan usaha rintisan berbeda antara satu negara dengan negara lain, berkisar 5-10 persen. Namun, peluang untuk berkembang menjadi unicorn, bahkan decacorn, seperti Google, Facebook, Alibaba, hingga Grab dan Gojek, membuat ada saja pemodal yang bersedia ā€œmembakar uangā€ sampai batas-batas tertentu. Peluang kegagalan usaha rintisan yang semakin meningkat pada saat perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia seperti saat ini akan mengurangi keinginan investor untuk memberikan modal.

di balik setiap keberhasilan usaha rintisan, ada puluhan bahkan ratusan lain yang gagal

Di Indonesia, diperkirakan ada 150 juta pengguna internet. Namun, potensi pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan. Ada beberapa faktor di balik kegagalan 95 persen dari usaha rintisan. Ada beberapa karakter yang diperlukan pendiri (founder) untuk dapat berhasil. Yang terpenting, tidak pernah bosan (passion) dan komitmen. Kedua, kemauan untuk menyesuaikan diri, akan tetapi bukan berarti selalu berubah-ubah. Faktor-faktor lain adalah kesabaran dan keuletan, bersedia mengamati, mendengar dan belajar, membina hubungan kementoran dengan pihak yang tepat, serta prinsip usaha rintisan yang ramping dan mengumpulkan dana sesuai kebutuhan tidak berlebih-lebihan. Terakhir, keseimbangan antara pengetahuan teknis dan bisnis dengan keahlian teknis yang memadai dalam pengembangan produk.

Faktor-faktor penting lain lebih berhubungan dengan pasar dan sifat bisnis. Yang paling sering terjadi, kegagalan mengenali pasar dan menghasilkan produk yang tidak diminati atau menjadi prioritas masyarakat. Kedua, kehabisan dana karena investor mundur akibat tidak kunjung menghasilkan kinerja yang baik dan prospek yang tidak menjanjikan. Faktor-faktor lain adalah tidak mempunyai tim yang bagus, kalah kompetisi, harga dan biaya yang tidak sesuai dengan segmen pasar, kualitas produk yang buruk, tidak mempunyai model bisnis yang jelas, serta tidak mempunyai pemasaran yang baik dan tidak memperdulikan pelanggan.

Kasus penutupan usaha rintisan Qlapa dan Shopo yang spesialisasinya kerajinan tangan adalah kombinasi dari spesialisasi berlebihan dan hambatan masuk (barrier to entry) yang rendah sehingga persaingan cukup ketat. Berbeda dengan mode yang dinamis dan selalu berganti, kerajinan tangan mempunyai turnover yang lebih lambat karena pelanggan mungkin tidak akan terlalu sering mengubah dekorasi rumah. Selain itu, perajin dapat masuk ke industri secara independen melalui Instagram tanpa harus melalui pasar dalam jaringan yang dibuat usaha rintisan. Data produk domestik bruto (PDB) dari sisi produksi menunjukkan, sektor ini tidak terlalu berkembang. Pertumbuhan produk kayu, kerajinan kayu, dan bambu hanya 2,62 persen, 2,57 persen, dan 2,64 persen secara tahunan, untuk triwulan I, II, dan III 2019.

Dampak makro
Dampak makroekonomi dari usaha rintisan tidak terlalu mudah dilacak secara langsung berdasarkan data PDB yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Yang jelas terlihat mendapat limpahan dari bisnis usaha rintisan ini justru bidang logistik pergudangan, pos, dan kurir yang menerima pesanan perdagangan secara elektronik atau e-dagang yang meningkat. Sejak pertengahan 2015, sektor ini selalu tumbuh di atas rerata pertumbuhan PDB serta sektor perdagangan besar dan ritel. Bahkan, pada 2019, pertumbuhan sektor ini berturut-turut 8,28 persen, 9,69 persen, dan 11,28 persen secara tahunan y untuk triwulan I, II dan III. Selain logistik e-dagang, usaha rintisan di sektor akomodasi juga turut mendukung pengeluaran konsumen untuk hotel dan restoran yang tumbuh di atas 5,22 persen secara tahunan sejak 2015.

Yang jelas terlihat mendapat limpahan dari bisnis usaha rintisan ini justru bidang logistik pergudangan, pos, dan kurir

Yang paling penting dari dampak menjamurnya usaha rintisan ini adalah unsur disrupsi sebagai inspirasi bagi pemain-pemain lama untuk mengubah diri. Perusahaan taksi, misalnya, berpeluang bekerja sama untuk meminimalisasi pemakaian bahan bakar untuk berburu penumpang dan waktu kosong. Industri tekstil dan garmen juga menemukan vitalitasnya kembali dengan mengunakan pasar daring untuk memasarkan dan menjual produk, memengaruhi tren mode, baik secara daring maupun luar jaringan melalui ekspos pasar, termasuk mengakuisisi rumah-rumah mode. Memang, masih banyak masalah yang mendera sektor ini, seperti mesin-mesin yang sudah tua, impor yang membanjir, kenaikan upah, biaya logistik yang tinggi, dan lain-lain. Tekstil dan garmen merupakan salah satu instrumen kelas menengah untuk melakukan aktualisasi sehingga dampak usaha rintisan relatif lebih terlihat daripada sektor-sektor lainnya. Dalam beberapa kasus, ada usaha rintisan menggunakan pasar daring untuk memperkenalkan diri sebagai produk premium. Setelah dikenal masyarakat, baru mereka membuka bisnis luring. Hal ini merupakan strategi cerdas untuk menghemat biaya promosi.

Sektor tekstil dan garmen mencapai titik terendah pada triwulan II-2015 dengan pertumbuhan negatif 6 persen. Namun, berangsur-angsur kinerjanya membaik. Pada triwulan IV-2017, angka ini sudah positif dan mencapai puncaknya pada triwulan II-2019 dengan pertumbuhan 20,71 persen secara tahunan, walaupun turun lagi ke 15,74 persen secara tahunan pada triwulan III-2019. Implikasi kebijakan dari dampak positif usaha rintisan, dengan tingkat keberhasilan yang kecil tidak perlu ada kebijakan pembatasan masuk yang berlebihan terhadap usaha rintisan. Yang harus diatur adalah transparansi bisnis dan laporan keuangan agar risiko bisnis dapat diukur secara wajar oleh pemodal.

Perlindungan konsumen juga harus dilakukan untuk tidak mengulangi kasus kejahatan seperti usaha rintisan kesehatan Theranos yang didirikan oleh Elizabeth Holmes yang kisahnya sudah diangkat ke layar kaca oleh HBO.

 

Sumber : Harian Kompas, 21 Januari 2020.