Kuliah Umum FEB UI, Bambang Brodjonegoro: Refleksi Perjalanan Sang Guru

0

Kuliah Umum FEB UI, Bambang Brodjonegoro: Refleksi Perjalanan Sang Guru

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (19/5/2021) Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (periode 2019-2021), sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Bambang P.S Brodjonegoro, Ph.D., menjadi pembicara Kuliah Umum “Refleksi Perjalanan Sang Guru: Akademisi, Birokrasi dan Kebijakan Publik Indonesia,” dengan moderator Teguh Dartanto, Ph.D., Pj. Dekan FEB UI, secara daring pada Rabu (19/5/2021).

Dalam pemaparannya, Bambang Brodjonegoro menceritakan perjalanan kariernya dimulai dari akademisi sebagai Dekan di FEB UI. Ia merasakan FEB UI merupakan satu unit pendidikan yang dinamis. “Artinya, kita tidak terpaku pada keilmuan saja, tetapi dituntut untuk memperkuat/memperkaya ilmu tersebut dan sebagai dosen diharuskan untuk bisa mencapai posisi tingkat tertinggi menjadi Guru Besar. Selain itu, FEB UI sejak 1966 sudah terlibat dalam pengambilan kebijakan publik di Indonesia bersama pemerintah dan swasta. Hal ini menandakan FEB UI mempunyai tradisi yang selalu melahirkan teknokrat, antara birokrat dan politisi, untuk memberikan nuansa keilmuan dan penekanan pada aspek teknis dari semua rules, regulation and standard dalam membuat kebijakan publik yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Menurut Bambang, pelajaran yang diperoleh selama berkarier di akademisi, yaitu (1) kembali mengabdi pada almamater setelah menempuh Master dan Ph.D. di University of Illinois at Urbana-Champaign (1991-1997); (2) menjembatani UI dengan universitas ternama luar negeri melalui program double degree untuk program Sarjana dan Pascasarjana dan menggalang dana untuk menambah gedung akademik baru; (3) aktif sebagai alumni: masih menjadi Guru Besar FEB UI dan aktif memberi seminar dan kuliah umum walaupun sudah menjadi birokrat.

Sepak terjangnya di dunia akademisi membuat Agus Martowardojo (Alumni FEB UI) yang kala itu Menteri Keuangan ‘meminang’ Bambang sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Inilah awal Bambang masuk ke Kementerian Keuangan dan juga karier pertamanya di luar kampus untuk mengabdi pada negeri. Selama berkiprah di BKF, Bambang mengaku banyak sekali mendapat ilmu dan pengalaman baru, karena tidak hanya mengandalkan textbook dan teori/konsep namun harus membuktikan sebagai akademisi yang bertransformasi secara mulus menjadi teknokrat.

Bambang mengungkapkan, pelajaran sebagai birokrat untuk kesejahteraan masyarakat sudah digelutinya di 3 kementerian, yakni (1) Menteri Keuangan: membuat kebijakan yang efektif seperti tax amnesty, realokasi subsidi BBM untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, inisiasi program Public Private Partnership (PPP), meningkatkan hibah pada pemerintah daerah untuk mengentaskan kemiskinan; (2) Menteri PPN/Ketua Bappenas: mengimplementasi kebijakan sesuai Sustainable Development Goals (SDGs) seperti menerapkan dan mengkomunikasikan SDGs dalam perencanaan pembangunan nasional, menerapkan kebijakan satu data dan satu peta (e-government), merancang smart card untuk 40% keluarga berpenghasilan terendah, merancang ibukota baru, dan menggagas visi Indonesia 2045; (3) Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional: merespon pandemi dengan riset dan teknologi seperti memimpin dan mengelaborasikan triple helix dalam konsorsium riset dan inovasi Covid-19, memimpin pengembangan vaksin nasional (vaksin Merah Putih), menerapkan pengembangan IPTEK sebagai dasar pembangunan negara.

Dedikasi pada Indonesia diwujudkan Bambang dengan menerapkan ekonomi yang digerakkan oleh inovasi (innovation driven economy), yang dapat mendorong perkembangan bangsa dan mengeluarkan Indonesia dari middle income trap. Inovasi tepat guna yang didorong oleh riset dan pengembangan dapat mendorong kemajuan Indonesia, maka kerjasama triple helix sangat dibutuhkan. Ke-17 tujuan dalam SDGs yang mencakup  terutama energi terbarukan, perubahan iklim, dan pengurangan kesenjangan sosial harus digerakkan secara masif. Pengembangan urban dan infrastruktur untuk menghubungkan Indonesia dapat mempercepat pengembangan hulu ke hilir, metropolitan, dan lingkungan.

Bambang menyoroti, pada abad 21 ini, skills yang dibutuhkan oleh generasi muda harus sesuai dengan kemajuan era digital. Saat ini, generasi muda dituntut berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah, kreativitas dalam melihat dunia dari berbagai perspektif, kolaborasi bersama tim dengan komunikasi yang baik, penguasaan Information and Communication Technology (ICT) dan multimedia, serta kepemimpinan yang dapat mengampu.

“Sebagai refleksi karier selama 10 tahun, saya ingin menitipkan 1 hal kepada para peserta khususnya para mahasiswa di Kuliah Umum ini, bahwa sebagai manusia jangan pernah berhenti belajar untuk terbuka terhadap sesuatu yang baru. Kredibilitas diri kita di mata masyarakat terlihat apabila selalu tanggap dan peduli terhadap isu terbaru atau permasalahan di kalangan masyarakat. Selain itu, kita harus selalu terbuka untuk menerima masukan, karena pemikiran dan konsep pastinya berbeda dari masing-masing individu” demikian Bambang menutup sesinya, yang dihadiri lebih dari 400 orang. (hjtp)