Inkubasi Wirausahawan Muda Indonesia: Rekomendasi Peningkatan Program Pembangunan

0

Inkubasi Wirausahawan Muda Indonesia: Rekomendasi Peningkatan Program Pembangunan

 

DEPOK – (14/2/2022) Guna memberikan edukasi kepada para wirausahawan muda agar mampu bersaing dan bertahan di dunia usaha, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) Indonesia menyelenggarakan Webinar: Indonesia Development Talk, secara daring pada Jumat (11/02).

Acara bertema “Incubating Indonesia’s Young Entrepreneurs: Recomendation for Improving Development Program” menghadirkan lima pembicara, yaitu Wakil Rektor Bidang Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Erika Budiarti Laconi, MS.; Direktur Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP) UI, Ahmad Gamal, Ph.D.; Direktur Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Bappenas, Dr. Tatang Muttaqin; Project Leader, UKM Indonesia–Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Dewi Meisari Haryanti; dan Senior Project Officer for Education di ADB, Sutarum Wiryono.

Webinar tersebut dibuka oleh Dekan FEB UI, Teguh Dartanto, Ph.D. Menurutnya, ide-ide baru dalam dunia bisnis perlu diberikan pada generasi muda untuk mendorong terciptanya inovasi. Salah satu upayanya adalah dengan memasukkan pendidikan inovasi ke dalam kurikulum pengajaran. “Semoga dari seminar ini kita banyak belajar dan mendapatkan insight, termasuk menghasilkan kolaborasi tidak hanya antara UI dan ADB, tetapi juga dengan universitas lain,” kata Teguh. Kegiatan ini akan terus diselenggarakan sebagai realisasi Memorandum of Agreement antara ADB dan FEB UI tentang Depository Library.

Country Director for Indonesia di ADB, Jiro Tominaga juga menyampaikan, webinar ini merupakan lanjutan yang membahas pendekatan dan solusi inovatif untuk menghadapi pembangunan di Indonesia. “Seminar ini penting karena startup memiliki peran yang sangat signifikan. Banyak startup yang membuka cara baru untuk menjual produk mereka. Oleh karena itu, merupakan langkah tepat apabila pemerintah dan pelaku bisnis terus mengembangkan inovasi dan talenta generasi muda Indonesia demi memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Jiro.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ahmad Gamal, menurutnya perlu diciptakan program inkubasi yang fleksibel karena kondisi dan tantangan yang dihadapi startup berbeda-beda. Diperlukan struktur untuk mengatur proses identifikasi hingga pengembangan startup. “Tidak semua startup yang masuk ke program inkubasi UI diizinkan mengembangkan produk. Jika mereka tidak mampu memvalidasi problem dan solusinya, mereka tidak akan diikutsertakan dalam product market fit. Begitu pula pada fase scale up (pendanaan), tidak semua startup mampu memvalidasi produk dan melewati fase ini,” kata Gamal.

Selanjutnya, pembicara kedua Dewi Meisari Haryanti, membaca adanya tantangan internal pada generasi muda yang mendirikan startup. “Mereka belum memantapkan diri saat menentukan membuka usaha sehingga saat mengalami hambatan, pelaku usaha memilih mundur. Saya pernah menjadi investor pada startup yang didirikan mahasiswa. Di tengah jalan, ia memilih mundur karena merasa membuka usaha bukanlah passion-nya. Ada pula yang memilih mundur karena startup-nya belum menghasilkan profit sebesar gaji teman-temannya. Jadi, faktor sosial dan lingkungan sangat memengaruhi mental generasi muda dalam mengembangkan startup,” kata Dewi.

Membentuk entrepreneur, menurut Prof. Erika Budiarti Laconi, tidak sekadar melalui pelatihan atau seminar kewirausahaan, tetapi harus dilandasi keinginan yang kuat dari dalam diri. Selain itu, entrepreneur juga harus mampu menjawab tantangan selama proses pendirian bisnis. Dalam proses inkubasi, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, yaitu cara kerja sistem inkubasi dan harapan yang realistis, integrasi wilayah, pendanaan berkelanjutan dan target yang realistis, pemahaman pasar dan model inkubator, serta tim manajemen terampil dengan fasilitas memadai.

Variasi antar-inkubator startup dalam hal pengalaman, organisasi, pendanaan, sumber daya, dan fasilitas, menurut Sutarum Wiryono menghasilkan tingkat keberhasilan (output/outcomes) yang berbeda. Setiap institusi memiliki karakteristik masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya, tetapi rekomendasi umum dapat diambil dari studi terkait dengan pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi. “Secara keseluruhan, inkubasi startup di tiga perguruan tinggi sampel (UI, IPB, Institut Teknologi Sepuluh Nopember) memiliki potensi besar untuk mensimulasikan dan mendorong wirausahawan muda untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi,” kata Sutarum.

Sementara itu, untuk mendukung program inkubasi ini, pemerintah—dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Bappenas, Dr. Tatang Muttaqin menyampaikan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan non-pemerintah dalam proses pembinaan, pendampingan, dan pengembangan perusahaan rintisan berbasis teknologi oleh inkubator teknologi untuk memaksimalkan hasil penelitian, penilaian, dan implementasi. Sinergi ini tentunya akan mengembangkan kewirausahaan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional, serta stimulator bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Kedepannya kewirausahaan diharapkan dapat membangun kemandirian masyarakat.

 

Dra. Amelita Lusia, M.Si. CPR

Kepala Biro Humas dan KIP UI

Media contact: Mariana Sumanti, S.Hum.

(Media Relations UI, humas@ui.ac.id ; 08151500-0002)