Budi Frensidy: Tujuh Bias Behavioral Finance

Tujuh Bias Behavioral Finance

Oleh: Prof. Dr. Budi Frensidy – Guru Besar FEB UI

 

KONTAN – (9/1/2023) Behavioral finance adalah ilmu tentang aplikasi psikologi dalam dunia keuangan terutama dalam menyelaraskan perbedaan antara valuasi rasional dan harga pasar yang irasional. Inilah tujuh bias utama behavioral yang terjadi di kalangan investor ritel. Jangan malu mengakui Anda mengalaminya sebagai investor saham.

1. Merasa Diri Hebat

Investor ritel sering menilai kemampuan dirinya berlebihan. Akibat bias ini, investor tidak ragu bertransaksi saham dengan fasilitas margin. Ilusi kontrol ini juga membuat banyak investor bertransaksi aktif karena merasa mampu mengendalikan pasar dan dalam memprediksi arah harga di masa depan. Yang terjadi sering sebaliknya.

Implikasi lain dari bias terlalu percaya diri ini adalah praktik tidak diversifikasi yang dilakukan sebagian besar investor ritel di bursa kita dan di bursa-bursa dunia lainnya. Padahal strategi fokus bukanlah strategi yang pas untuk investor ritel dengan kemampuan investasi rata-rata.

2. Representativeness

Banyak investor terutama pemula tidak dapat membedakan saham bagus dan perusahaan bagus. Mereka menilai saham bagus atau jelek berdasarkan bagus atau jeleknya perusahaan. Saham bagus sejatinya tidak sama dengan perusahaan bagus. Perusahaan bagus jika harganya sudah tinggi maka sahamnya sudah tidak bagus lagi.

Bias ini berhubungan dengan fenomena manusia yang sering mengambil keputusan berdasarkan stereotype atau dari sampel yang tidak representatif. Banyak sekali kita menemui contoh bias ini dalam kehidupan sehari-hari. Pelamar kerja yang indeks prestasinya rendah dianggap akan berprestasi jelek juga dalam bekerja sehingga tidak diperkenankan melamar dengan disyaratkannya IPK minimum.

Contoh penarikan kesimpulan dari sampel yang tidak representatif adalah pernyataan Menko kita dan juga dari pimpinan KPK yang mengatakan, “86% koruptor yang ditangkap adalah lulusan perguruan tinggi.” Yang dapat menjadi koruptor adalah para pejabat. Yang dipercaya untuk menjabat juga lulusan perguruan tinggi. Karenanya, jika pernyataan ini diteruskan, kita akan sampai pada kesimpulan salah lainnya bahwa tidak ada koruptor tertangkap yang hanya lulusan SMP.

3. Konfirmasi

Manusia umumnya mau mendengar atau membaca apa yang dia harapkan dan mengabaikan yang tidak sesuai dengan pandangannya. Kita merasa terganggu oleh individu, kelompok, dan sumber berita yang berbeda sudut pandang. Investor pun demikian. Ketika kita menyukai dan membeli saham, kita akan senang mendengar analis atau media merekomendasikan saham ini. Sebaliknya, kita cenderung mengabaikan analisis siapa pun dari mana pun yang mengatakan, saham ini sudah kemahalan dan saatnya dijual.

Sekarang misalkan kita baru saja menjual saham itu. Kita akan tersenyum senang jika mendengar atau membaca siapa saja yang merekomendasikan jual untuk saham itu, karena sesuai dengan pendapat kita. Kita tidak suka jika ada yang masih menyarankan beli saham tersebut.

4. Mental Accounting

Banyak dari kita memperlakukan berbeda antara uang menang taruhan, bonus atau THR, dan gaji bulanan. Kita membuat akun-akun terpisah untuk ketiganya di pikiran kita yaitu current income, current asset, dan future income. Kita bersedia menghabiskan current income tetapi menahan diri untuk menggunakan future income.

Investor pun memandang tidak sama antara keuntungan dari dividen dan capital gain. Kita tidak ragu menggunakan keuntungan dari dividen tetapi tidak bersedia merealisasikan capital gain untuk dikonsumsi. Ini karena investor takut menyesal (regret aversion) ketika sebagian saham yang sudah dijualnya itu naik tinggi.

5. Harga Referensi

Bias ini berhubungan dengan penggunaan acuan tertentu untuk pengambilan keputusan. Jika Anda sempat menjual sebuah saham di harga Rp1.700 beberapa hari lalu, sangat mungkin Anda tidak bersedia membelinya kembali ketika harganya naik menjadi Rp2.000. Angka Rp1.700 akan terus Anda ingat untuk referensi keputusan membeli saham itu.

Ada juga investor yang menggunakan harga minimum saham setahun terakhir sebagai referensi membeli saham dan harga tertingginya untuk acuan harga jualnya. Jika ini terjadi, hampir pasti dia tidak akan pernah jadi membeli atau menjual saham dimaksud. Yang paling sering terjadi adalah investor menggunakan harga belinya sebagai acuan (anchoring) harga minimum untuk menjualnya.

6. Takut Rugi

Buku investasi tradisional mengatakan investor takut risiko atau risk-averse. Risiko didefinisikan sebagai volatilitas harga.  Behavioral finance berpandangan lain bahwa investor sebenarnya bukan takut risiko tetapi takut rugi atau loss averse.

Anda tahu harapan seorang investor yang harga sahamnya jatuh sesaat setelah dia membeli? Harapannya ternyata bukan memperoleh untung tetapi agar dia tidak jadi rugi. Karena itu doanya adalah semoga harga segera kembali lagi agar dia dapat menjualnya dan balik modal. Bias ini disebut juga bias get evenitis.

7. Efek Disposisi

Implikasi dari loss aversion, get even-itis, dan regret aversion di atas adalah investor ritel kerap membiarkan kerugian portofolionya terus mengalir. Di sisi lain, investor cepat dalam memutuskan menjual saham untung. Bukannya membatasi kerugian dan membiarkan keuntungan mengalir (let the profits run), tapi banyak investor ritel justru melakukan sebaliknya yaitu membatasi keuntungan dan membiarkan kerugian menumpuk.

Shefrin dan Statman (1985) mencatat ini sebagai efek disposisi yaitu sell the winners too soon and hold the losers too long. Demikian dan Selamat Tahun Baru 2023 kepada para pembaca setia kolom ini.

 

Sumber: Koran Kontan. Edisi: Senin, 9 Januari 2023. Rubrik Portofolio – Wake Up Call. Halaman 4.